Kamis, 15 September 2011

Pembelajaran Akhlak Berbasis Tekhnologi Informasi

Pembelajaran Akhlak Berbasis TI
Oleh  : Nur Sabani, S.Ag.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan. Bagi kalangan pendidik perkembangan ini harus dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa dalam melaksanakan profesinya, guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan demikian, seorang guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkesan dan bermakna. Seorang guru disamping mampu memenuhi standar kompetensi sebagai pendidik, juga harus mampu dalam takaran praksis mikro pembelajaran dapat melakukan analisis SK dan KD, merumuskan indikator, memilih media, menentukan metode yang tepat, mengalokasikan waktu penyajian dan memilih bahan pustaka. Salah satu dari tuntutan seperti disebutkan diatas adalah mampu memilih media.
Pembiasaan Akhlak terpuji pada era globalisasi sekarang ini sangat mendesak dilakukan terutama dilingkungan pendidikan. Hal ini juga disadari oleh Kemendiknas M. Nuh yang akan mengembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia pada tahun 2011 seperti dilansir media massa. Kementerian Agama yang membawahi madrasah tentu menyambut positif KBAM meskipun bagi kalangan madrasah KBAM bukan hal baru lagi. KBAM akan lebih konkrit dengan memasukkan unsur akhlak dan moralitas pada setiap mapel. Meskipun Akhlak Mulia sudah menjadi mapel tersendiri pada madrasah yaitu Aqidah dan Akhlak. Akan tetapi akhlak pada siswa harus didukung oleh Mapel yang lain dan tidak menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada guru Akidah Akhlak. Akhlak penting ditanamkan di sekolah sehingga lulusan yang dihasilkan menjadi generasi masa depan bangsa yang memiliki karakter kuat. Kurikulum berbasis akhlak perlu dilakukan dengan menanamkan moralitas dan akhlak mulia dalam berbagai mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Agar tujuan tersebut mengenai sasaran maka proses pembelajaran akan cepat menunai hasil jika didukung  penggunaan media yang tepat.
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Sedangkan Media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran menurut Gagne dan Briggs (1975) media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, televisi dan computer.
MATERI AKIDAH AKHLAK
            Dalam Latar Belakang SKL Mapel Akidah Akhlak disebutkan bahwa Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh akidah yang kokoh. Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Al-Akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan berbangsa, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.
Meskipun terdapat standar kompetensi yang spesifik pada materi akhlak, akan tetapi pengembangan indikator pada setiap Standar Kompetensi yang lain juga memuat pembiasaan Akhlakul Karimah. Demikian juga mapel Akidah akhlak MI dan MA serta Mapel PAI  pada sekolah.
PEMANFAATAN MEDIA
Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan dalam belajar mengajar adalah pemilihan media pembelajaran yang tepat. Menurut Hamalik (1986), media pembelajaran yang tepat dapat membangkitkan motivasi, keinginan minat, dan rangsangan kepada siswa. Sehingga dapat membantu pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, memadatkan informasi.
Media pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu:
a.   Fungsi atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.
b.   Fungsi afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
c.   Fungsi kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat informasi/pesan yang terkandung dalam gambar.
d.   Fungsi compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara verbal.
Mata Pelajaran Akidah Akhlak memuat materi yang bertujuan untuk membiasakan peserta didik berperilaku yang baik sesuai dengan Ajaran Agama Islam. Materi Akhlak pada bahan ajar umumnya memuat pengetahuan aspek kognitif, meskipun terkadang terdapat contoh perilaku yang mengarah agar peserta didik mempu merasakan materi yang dipelajari. Sebagai Contoh dalam Kompetensi Dasar ” nilai-nilai positif kreatif dan produktif dalam fenomena kehidupan”, siswa diberi contoh fiktif sebagai berikut : Bani berasal dari keluarga yang tak mampu. Maka sepulang sekolah dia berjualan koran untuk mencari penghasilan tambahan bagi orang tuanya . Honor dari penjualan tersebut digunakan selain diberikan kepada orang tuanya, sisanya untuk membeli peralatan sekolah. Dengan mendengar atau membaca cerita tadi, emosi dan sikap siswa belum tergugah untuk meniru figur pada cerita naratif tersebut. Kegiatan pembelajaran akan lebih menarik jika pendidik menggunakan media dengan menayangkan liputan berita atau cuplikan acara televisi yang menceritakan profil atau atau kisah nyata seseorang yang kreatif. Dengan menyaksikan kisah nyata, maka peserta didik akan tergugah emosi dan sikapnya sehingga pesan moral cepat ditangkap dan dapat memotifasi peserta didik.
Contoh lain dalam pembelajaran tasamuh (toleransi) siswa hanya membaca materi contoh toleransi, seperti menghargai teman yang berbeda agama untuk menjalankan ibadah. Siswa akan lebih tertarik jika pendidik menayangkan liputan berita SCTV tentang kebersamaan berbuka bersama antara umat katolik dan muslim di Kab. Bolu NTT. Liputan lain seperti cuplikan berita tentang Masjid dan Gereja yang berdampingan tembok di Jl. Gatot Subroto 222 Joyodiningratan.
            Menurut pengalaman penulis, terdapat banyak file cuplikan berita televisi yang  telah diuploud dan yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Dibutuhkan ketrampilan untuk mencari cuplikan berita tersebut  di internet. Selain cuplikan berita, juga bisa menggunakan rekaman acara reality show yang sesuai dengan tema pembelajaran. Acara televisi yang layak dijadikan media seperti : Jika Aku Menjadi (Trans TV), Hikmah, Orang Pinggiran (Trans TV), Bedah Rumah, Minta Tolong (RCTI), Orang Pinggiran, The Miracle, dll.  Cuplikan Berita atau rekaman acara televisi dapat dikatagorikan sebagai  media Audio visual. 
Berikut ini beberapa contoh pemanfaatan berita TV untuk media pembelajaran Akhlak klik disini
Ada beberapak kelebihan penggunaan media berita dan reality show dalam pembelajaran. Pertama, bersifat nyata artinya pendidik dapat membawa dunia nyata ke kelas, seperti orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya. Dengan menggunakan kisah nyata yang dikemas dalam media audio visual maka akan mempercepat keberhasilan proses pembelajaran.
Kedua, KBM lebih menarik perhatian, sehingga menumbuhkan motivasi belajar dan motifasi meniru sikap atau tauladan yang baik. Ketiga, pesan moral lebih jelas, sehingga siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik. Kelima, siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, merasakan, mendiskusikan dan lain-lain. Manfaat ini telah penulis rasakan klik disini ke dokumentasi.
Penggunaan media dalam pembelajaran Akhlak ini tentu hanya salah satu strategi untuk mempercepat proses knowing dan feeling good. Tujuan akhir dari pendidikan akhlak tentunya adalah pembiasaan (doing) sikap terpuji dalam kehidupan keseharian.

Penulis adalah Guru Pada MTsN Prembun Kebumen

10 komentar:

Bagus lah kalo begitu, IPTEK ok IMTAQ juga jangan dilupakan. Saya dukung untuk semua guru agar mampu memanfaatkan sarana pembelajaran berbasis TI dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih OK. SUKSES...

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya..., lebih baik dicantumkan nama/blog anda agar saya bisa mengunjung balik web anda.

Halo Pak Nur, aku berkunjung niih...

hmmmm...aku tidak sependapat nih pak dengan bapak tentang tayangan di media Televisi tersebut..terlalu di dramatisir... hehehe...

Salam kenal, pak...
http://fikimaulani.blogspot.com/
http://fikimaulani.wordpress.com/
@fiki0102

Hallo juga Pak/ mabak Fiki,
Kritik saya terima. Tayangan dalam Reality show memang terlalu di dramatisir, akan tetapi dalam penelitian saya, lebih menitikberatkan pada Liputan Berita TV yang berisi kisah/ profil seseorang. Kalo toh itu sudah ada lips dari media, tapi justru dari dramatisir redaksilah akan menjadikan tayangan mengena dan siswa dapat tergugah emosinya. Untuk reality show sebatas sebagai perbandingan dan bisa dipertimbangkan sebagai bentuk tugas rumah( Khan waktunya lama, jadi akan menghabiskan waktu Jampel, tidak pas kalo di kelas).
Bandingkan dengan contoh fiktif (tentang kreatif= membuat mainan dari barang bekas) yang biasa diberikan buku mapel atau sebagian guru, tentu siswa belum tergugah ato malah sebagian komentar : "Ah teori..???" sebagai bahan pertimbangan juga saksikan contoh video toleransi pada http://nursabani.blogspot.com/2011/03/media-pembelajaran-akhlak.html daripada kita hanya memberi contoh bahwa toleran adalah menghormati orang lain yang beribadah, khan siswa akan tertarik jika toleransi contohnya nyata dan konkrit...) Maaf terlalu panjang..... nanti kita diskusikan lagi...

Salam kenal Pak.....blogger mania dari Bangka Belitung..
Bapak temannya Pak Sutrisno ya...:-) beliau teman Sma juga Pak...

TErimakasih kunjungannya pak kusprianto., salam untuk temen2 dari Bangka Belitung.

Assalamualaikum
salam kenal Pak Nur, saya dari Tangerang Banten.
saya lagi cari ebook Aqidah Akhlak MTs. Kelas 7,8 dan 9. Mudah2an Bapak berkenan mengirimkannya via email saya : hendratng@yahoo.co.id. terimakasih, semoga jadi ibadah.

Insya Allah akan saya kirimkan, tapi maaf Pak Abu Nabiel, edisi e-book masih belum terbit tapi ada Bahan Ajar kami susun dalam Workhshop yang diselenggarakan oleh Kanwil Jateng. Oh ya. dari MTs mana dan nama lengkap serta alamat MTsnya mana pak? sekedar tahu aja e, sapa tahu saya juga banyak temen di Tanggerang.

Subhanalloh, ketika kita berfikir tentang dosa dan siksa mestinya akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan kebaikan, padahal Allah SWT, yakin sang Khaliq sudah tahu ketetapan yang akan diberikan kepada setiap penciptaanNya, akankah dia baik ataukah buruk nasib dunia akhiratnya. Pada hakikatnya tentu kita hanya berusaha sebaik mungkin untuk mendapat rahmatNya, karena belum tentu amal baik menjadikan baik hasilnya bagi pelaku, yang terbaik bagi kita mungkin berharap semoga amal baik bisa mendekatkan diri kita kepada sang khaliq yang karena kita cinta tetapi juga takut akan kekuasaan_Nya. Mohon maaf barangkali saya salah komentar....

Posting Komentar

KOMENTAR :

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI