Toleran

Agar engkau bisa bijak dalam menyikapi sesuatu dan tidak menganggap menjadi makhluk paling sempurna.

Bersama untuk berbagi

Berbagi informasi adalah belajar transparansi. Mnjadi sarana untuk memperbaiki diri.

Mendidik dengan cinta

Menjadikan pembelajaran bermakna. Memandang siswa memiliki kesempatan memiliki pengetahuan dengan bermacam kecerdasan yang mereka miliki.

Agama sebagai pondasi keyakinan hidup

Tanpa memandang remeh keyakinan lain.

Rabu, 23 Februari 2011

IKHLAS

SERVICE PLUS PLUS
Dengan semboyan Ikhlas Beramal, instansi Kementerian Agama sudah mempunyai pondasi pemikiran untuk mengadakan Excellent Service (Layanan Prima). Semboyan tersebut tentu tak terwujud jika belum didukung oleh seluruh elemen di Kementerian Agama. Untuk mengadakan pelayanan prima harus di dukung dengan pribadi-pribadi yang prima. Salah satu indikator seseorang dikatakan mempunyai pribadi prima adalah memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam bekerja. Semua standar pelayanan baik waktu, biaya, produk dan sarana pelayanan juga tergantung pada keikhlasan pelayan. Waktu penyelesaian tidak akan lama jika dalam bekerja didasari ikhlas. Tidak ada biaya tambahan yang memberatkan masyarakat jika melayani dengan ikhlas. Produk layanan akan berkualitas serta memuaskan publik jika ikhlas menjadi dasarnya. Dukungan sarana yang memadai juga bisa terwujud jika kita ikhlas menyediakannya. Ikhlas Beramal janganlah dijadikan simbol belaka tanpa makna, akan tetapi harus diaktualisasikan dalam bekerja.
Sayangnya kata Ikhlas masih dipandang miring oleh sebagian masyarakat seakan ikhlas hanya sebatas kemampuan pelayan sehingga menafikan standar layanan yang baik. Ungkapan “Asal Ikhlas” masih terdengar meskipun diungkapkan dengan nada humor. Ikhlas juga berarti tulus hati, yang berarti mengerjakan sesuatu karena Allah oleh karena itu harus dikerjakan sebaik baiknya untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Dengan demikian pelayanan ikhlas adalah pelayanan yang dikerjakan dengan tulus hati dan profesional, dengan tetap berpedoman pada standar pelayanan yang baik serta memuaskan stakeholders.
Selain modal ikhlash, untuk menjadi excellent server PNS Kementerian Agama harus meneladani sifat Nabi Muhammad SAW dalam memberikan pelayanan. Siddik, melayani dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur, maupun standar layanan. Sesuatu yang dilaksanakan dengan benar tentu akan memuaskan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Amanah, adalah konsisten dan komitmen untuk melaksanakan tugas sesuai dengan target yang hendak dicapai. Hindari mempersulit dan terbelit belit dalam memberikan layanan. Tabligh, menyampaikan informasi dengan transparan dan terbuka. Dalam pelayanan diperlukan adanya komunikasi terutama kepada stakeholder dengan ramah dan menampilkan pribadi yang sopan dan penuh penghormatan. Dengan komunikasi yang baik dan efektif keinginan stakeholders akan mudah diserap dan ditindaklanjuti. Selanjutnya dapat menjadi acuan pelayanan. Fathanah, kualitas kompetensi individu harus sesuai dengan tugas yang dilaksanakan. Dengan individu yang cerdas, akan menghasilkan produk yang cerdas juga.
Dengan meneladani Sifat Nabi Muhammad SAW dan didasari dengan niat Ikhlas dalam bekerja, layanan akan tercatat sebagai amal ibadah dan mendapatkan pahala. Itulah layanan yang berdampak pada dunia dan akherat. Dengan demikian Kementerian Agama akan selalu memberikan layanan plus.
Selamat Melayani! Semoga sukses.

Nur Sabani, S.Ag.
Kauman Prembun Kebumen

KEMERDEKAAN RUHANI

KEMERDEKAAN RUHANI
Kemerdekaan adalah idaman manusia. Sebagai makhluk yang terdiri dari jasmani dan ruhani manusia terusik kemedekaannya oleh dua penindasan, yang pertama, Penindasan Jasmani. Penjajahan termasuk jenis penindasan jasmani. Alangkah pedih bangsa yang terjajah kemerdekaannya. Mereka harus mengikuti semua kemauan penjajah. Kebahagiaan, ketentraman, cita cita, masa depan dan Kepribadian mereka hilang. Bangsa yang terjajah menjadi budak dirumahnya sendiri. Bangsa kita mengalami penindasan ini selama kurang lebih 350 tahun. Banyak pengorbanan dikeluarkan baik material, psikologis maupun nyawa. Penindasan Jasmani ini akhirnya bisa dilawan dengan kekuatan persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah.
Yang kedua, adalah Penindasan Ruhani. Walaupun kemerdekaan telah diraih bangsa kita, tapi kemerdekaan hakiki belum semua dapat dirasakan oleh sebagian warga dan para pemimpin bangsa ini. Hal ini bukan karena adanya penjajahan dari bangsa lain, tapi dikarenakan masih ada bentuk penindasan yang lain yaitu penindasan Ruhani. Manusia yang tertindas ruhaninya cenderung mengikuti semua keinginan yang akan menjadikannya menghalalkan segala cara. Penjajahan yang dilakukan oleh Hawa nafsu ini bisa dilawan dengan kekuatan jiwa yang bersih.
HUT kemerdekaan tahun ini yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan tidak akan mengurangi kemeriahan bangsa dalam memperingati HUT kemerdekaan, tapi justru menjadi momentum yang sangat tepat untuk memaknai hakekat kemerdekaaan. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan secara fisik tapi perlu didalami dengan mengaktualisasikan nilai-nilai kemerdekaan dan pemaknaan yang benar.
Dengan puasa kita bisa merasakan beratnya perjuangan yang hakiki yaitu menahan penindasan jasmani baik dengan menahan lapar dahaga maupun melawan penindasan ruhani dengan menahan hawa nafsu. Selain itu dengan puasa kita bisa merasakan nikmatnya kemerdekaan dari belenggu Hawa Nafsu.
Sejarah telah mencatat bahwa Kemerdekaan Bangsa indonesia jatuh pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Momen Istimewa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Bangsa Indonesia bahwa Kemerdekaan hakiki adalah apabila suatu bangsa tidak hanya diperbudak oleh keinginan bangsa lain tapi juga tidak diperbudak oleh keinginan hawa nafsu yang ada pada diri manusia. Merdeka jasmani dan ruhani akan menjadikan manusia menjadi tuan yang mengatur dirinya sendiri dalam menghamba kepada Allah SWT.

Nur Sabani, S.Ag.
Guru MTs Negeri Prembun Kebumen
Kauman Prembun

BUKAN BALAS JASA

BUKAN BALAS JASA


Darah dagingmu dari air susunya,
Jiwa ragamu dari kasih sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya
Penggalan lagu Keramat karya H. Rhoma Irama ini dapat merindingkan bulu jika kita meresapi maknanya. Ibu adalah sosok yang telah mengukir jiwa raga kita. Ibu bagaikan malaikat yang dengan sabar merawat dan mendidik kita tanpa mengenal lelah. Al-Qur’an telah menggambarkan kegigihan ibu saat mengandung, menyusui hingga menyapih seorang anak. Perjuangan ibu ini terkadang bertaruhkan nyawa. Selanjutnya Allah mengingatkan kita untuk bersyukur. Rasa syukur pertama adalah bersyukur pada Allah yang telah menjadikan ibu sebagai perwujudan kasih sayang-Nya. Rasa syukur kedua adalah rasa syukur kepada orang tua khusunya ibu dengan menunjukkan bhakti kita kepada mereka.
Pada era modern ini sebagian masyarakat menjadikan materi sebagai tolak ukur kebaktian anak terhadap ibu. Pemberian baik berupa uang atau benda berharga dianggap menjadi indikator kebaktian seseorang. Terkadang ada penyesalan pada anak ketika orang tuanya meninggal dengan tangisan “aduh, aku belum pernah memberikan sesuatu”. Paradigma tersebut menghantui seseorang seiring zaman yang semakin berorientasi pada material. Padahal dalam mengasuh anaknya, seorang ibu tidak pernah meminta untuk dibalas jasa-jasanya. Mereka tetap mencintai anak tanpa syarat.. Jika ibu meminta, kita tidak pernah bisa membalas kebaikan mereka. Jasa ibu tidak bisa diukur dengan dunia seisinya sekalipun. Bhakti kita kepada ibu bukanlah perwujudan balas jasa, tapi hanya ungkapan syukur kita kepadanya.
Selain mengaktualisasikan syukur kita kepada ibu, cara lain berbakti pada ibu adalah dengan menghormati dan mendo’akan. Konsep mikul duwur mendem jero juga harus diterapkan sebagai implementasi dari penghormatan kita. Sebagai anak, kita berusaha mengharumkan nama ibu dengan menjadi anak yang sholih. Bagaimanapun kondisi ibu, dari anggukan wajah, atau sekedar senyuman di ujung bibir, juga belaian tangan ibu di pundak anak, ternyata sangat menentukan bagi puluhan ribu hari berikutnya yang masih harus ia lewati. Satu detik keikhlasan ibu merawat anak, bisa menjadi bibit keuntungan jutaan rupiah yang kelak didapatkan anak dari kesuksesannya setelah dewasa.Tak kalah penting dari wujud bhakti kita kepada ibu adalah penghargaan kita terhadap harkat dan martabat kaum wanita, karena dari tangan merekalah tercipta sorga dunia dan di bawah telapak kaki merekalah surga berada. Salam Hormat Untuk Ibu di seluruh dunia
Nur Sabani Guru MTsN Prembun Kebumen

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI