Toleran

Agar engkau bisa bijak dalam menyikapi sesuatu dan tidak menganggap menjadi makhluk paling sempurna.

Bersama untuk berbagi

Berbagi informasi adalah belajar transparansi. Mnjadi sarana untuk memperbaiki diri.

Mendidik dengan cinta

Menjadikan pembelajaran bermakna. Memandang siswa memiliki kesempatan memiliki pengetahuan dengan bermacam kecerdasan yang mereka miliki.

Agama sebagai pondasi keyakinan hidup

Tanpa memandang remeh keyakinan lain.

Senin, 31 Desember 2018

TAHUN BARU MILIK KITA

Ada teman berargumen bahwa Tahun masehi berdasar hitungan syamsiyyah dan milik non-muslim. Maka mereka melarang perayaan tahun baru bahkan mengucapkan selamat saja tidak boleh. Ada baiknya kita renungi firman Allah SWT:
Dialah Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (jalan) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan  yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kepada orang-orang  yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)
 
Selain sebagai bukti ilmiah bahwa al-Qur’an sejalan dengan Ilmu Pengetahuan, ayat tersebut menjelaskan bahwa perhitungan siklus hari, bulan, maupun tahun bisa berdasar pada hitungan rotasi bulan atau matahari.  Meskipun pada Zaman Nabi yang menonjol menggunakan kalender hijriyah tapi tidak ada larangan menggunakan hitungan berdasar matahari. Lihat dalam kitab klasik bahwa waktu dzuhur, ashar  masing mengacu pada matahari. Dus, Ayat ini secara ekplisit menjelaskan bahwa kalender baik yang berdasar qamariyyah maupun syamsiyyah sudah berdasar al-Qur’an.
Meniru kebiasaan orang kafir dan menampakkan loyalitas kepada orang kafir

Argumen lain dari rekan saya terkait dengan hadits Man Tasyabbaha biqaumin fahuwa Minhum. Barangsiapa  menyerupai suatu kaum adalah bagian dari mereka. Hadits ini dijadikan dalil larangan merayakan tahun baru, karena merayakan tahun baru adalah tradisi kafir.
Asbabul Wurud hadits tersebut berkaitan dengan politik identitas yang dilakukan nabi untuk mensolidkan dan menunjukkan loyalitas muslim yang kala itu masih sedikit dengan menunjukkan identitas pembeda baik dengan jenggot, sepatu sandal, dan warna pakaian. Padahal sekarang kita hidup dalam komunitas dan identitas yang tidak terbatas. Bukankah sepak bola, makanan, bahkan pakaian yang kita kenakan banyak mengadopsi dari orang yang tidak kita ketahui identitas agamanya?.
 
Kaum wanita pada zaman Nabi saja tidak memakai Bra karena bra adalah tradisi Eropa. Akankah ada anjuran melepas bra dengan alasan meniru budaya non-muslimah?. Penggemar Liga Inggris tidak lantas kehilangan identitas keindonesiaannya. Demikian pula orang yang memakai bra-tidak lantas kehilangan sifat muslimahnya. Identitas keislaman tidak akan tergerus oleh pembeda aksesoris, tapi akhlak mulia.
Sebagai pembanding ada hadits lain yang artinya Berbedalah dengan yahudi karena mereka shalat tidak pakai sandal dan sepatu.  (HR. Abu Daud). Konteks saat itu masjid yang akan dijadikan tempat sholat tidak berkeramik maupun beralaskan karpet.  Maka Nabi memerintahkan  agar umat islam sholat memakai sepatu ataupun sandal. Coba jika kita sekarang sholat menggunakan sandal maupun sepatu, malah nanti diusir dikira orang gila.

Untuk itu bagi saya merayakan tahun baru tidak masalah yang terpenting bagaimana caranya. Bukankah merayakan tahun baru dengan berdo’a, syukur dan sedekah atau mentraktir saya juga bernilai ibadah?. Yang penting tidak melanggar aturan, norma, agama dan jauh dari hura-hura. Awali tahun baru ini dengan berdoa untuk kebaikan hidup. Jika takut tertular penyakit  jangan beli terompet. Jika takut kesiangan sehingga tidak sholat subuh, jangan menunggu jam 12. Silahkan bakaran asal jangan bakar jenggot teman.

SELAMAT TAHUN BARU 2018.
Mirit, di penghujung tahun 2017
Nur Sabani

Kamis, 01 Maret 2018

JUJUR TANPA MENYAKITI

Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta, tinggalkan aku, bila tak mungkin bersama, jauhi diriku, lupakanlah aku, selamanya.

Syair di atas merupakan contoh bahwa kebohongan sangat menyakitkan hati, apalagi kebohongan adanya rasa cinta. Tuntutan untuk berkata jujur dari lagu group Band Radja tersebut sebagai bagian dari protes adanya manipulasi kebaikan yang semu.  Kasus serupa, sangat mungkin terjadi di lingkungan kita. Kebohongan kadang dilakukan demi menjaga perasaan seseorang. Bahkan alasan kebaikan kadang masih menyertai sebagai argumen ketidakjujuran.

Berkata apa adanya terasa sangat berat apalagi menyangkut perasaan orang-orang yang dekat atau yang orang yang disegani. Butuh sebuah keberanian untuk mengatakan hal yang mungkin akan sangat mengecewakan bagi pihak tersebut. Dalam kondisi ini, maka banyak orang yang memilih untuk diam tanpa pendapat, atau bahkan mengikuti meskipun berkecamuk dalam hati. Kondisi ini justru akan berkibat pada kegelisahan diri maupun orang sekitar kita. Kenyataan atau kebenaran yang ditutup tutupi bisa saja kelak akan menjadi hambatan untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai bersama.

Apapun bentuk pengingkaran terhadap nilai kebenaran adalah bentuk kebohongan yang tidak bisa dijadikan solusi untuk pembenaran perbuatan seseorang. Kebohongan yang dilakukan dengan dalih menjaga perasaan ataupun bentuk penghormatan secara tidak langsung malah akan menjerumuskan orang lain. Untuk itulah, pada kondisi sesulit apapun kita harus berusaha mengatakan kebenaran.  Pada awalnya mungkin akan mengecewakan, tapi pada masanya nanti justru orang tersebut merasakan manfaat  serta membenarkan sikap kita.

Meski demikian, dalam mengatakan kebenaran juga harus dilakukan dengan santun tanpa menggurui. Apalagi mengatakan bentuk kebenaran dengan mengolok-olok dan mempermalukan orang. Bukan tidak mungkin menjadikan pihak tersebut berang dan melawan dengan semakin nekat melakukan kesalahan. Kebenaran yang kita katakan malah akan dianggap sebagai musuh yang harus dikalahkan, sehingga tujuan dari kejujuran tidak akan tercapai. Mengatakan kebenaran sebisa mungkin dilakukan tanpa menyinggung perasaan dan tanpa menghakimi yang menjadikan pihak lain menyadari sepenuh hati untuk berbuat sesuai dengan norma dan kebenaran yang diyakini. Katakan yang benar walaupun terasa pahit.

Minggu, 25 Februari 2018

JUJUR SEMUDAH SENYUM

Sebagai makhluk sosial yang dalam kesehariannya dituntut untuk bersikap, berkomunikasi, dan bertindak dengan orang lain, manusia mempunyai dua pilihan sikap, yaitu terbuka atau tertutup.  Sikap terbuka adalah tampil sebagai diri sendiri, apa adanya, tanpa ada kepalsuan. Sedangkan tertutup adalah sikap untuk cenderung tampil dengan menggunakan topeng, mengurangi segala hal yang ada, atau menambah tampilan demi menutupi kejadian sebenarnya.  Dua sikap tersebut selalu menjadi pilihan seseorang, apalagi jika menghadapi sebuah masalah atau persoalan.

Sikap terbuka adalah salah satu ciri kejujuran seseorang. Sikap ini sebenarnya sangat mudah dilakukan oleh siapapun. Keterbukaan dalam bersikap, tampil menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang tidak membutuhkan pemikiran. Seseorang bisa tampil apa adanya dengan tanpa dibayangi rasa takut ketahuan jati dirinya. Sikap ini akan menumbuhkan sikap kesederhanaan hidup karena mampu menampilkan apa yang ada tanpa polesan yang jauh dari kenyataannya. Sikap apa adanya juga menjauhkan diri dari kerakusan yang berakibat menghalalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu yang jauh dari kemampuannya. Korupsi adalah bentuk lain dari adanya kerakusan dalam memiliki susuatu.

Terbuka dalam komunikasi juga sangat mudah dilakukan. Bebicara apa adanya tidak banyak memutar otak untuk mencari alasan yang dibuat buat. Menjelaskan sesuatu yang riil dapat memberi gambaran sesuatu yang nyata yang tidak akan membingungkan orang yang mendengarkannya. Menceritakan hal yang benar terjadi tidak akan menjadikan orang terkelabuhi dengan ucapannya. Mengatakan keadaan sebenarnya menjadikan dia tenang, tidak merasa gelisah jika orang mencari tahu kebenarannya. Berkata benar meskipun terasa pahit bagi yang mendengarkan justru akan menjadikan orang lain waspada dan mendorong untuk mengevaluasi serta hati hati terhadap apa yang akan dilakukan. Sedangkan mengatakan sesuatu yang lebih baik dari kenyataanya akan menjadikan orang lain terkelabuhi dan berakibat pada kekecewaan.

Terbuka dalam bertindak untuk melakukan sesuatu menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Melakukan sesuatu dengan terbuka menjadikan seluruh tindakan maupun pekerjaan yang dilakukan bisa dipertanggungjawabkan kepada orang lain sehingga memunculkan rasa kepercayaan yang tinggi. Laporan pekerjaan akan mudah dibuat dengan disertai bukti fisik yang akurat dan nyata. Pembuatan laporan tidak disulitkan dengan mencari bukti fiktif dan kegelisahan adanya temuan kecurangan. Banyaknya kasus manipulasi kwitansi dan pemalsuan tandatangan merupakan contoh kesulitan dalam membuat laporan.

Semangat keterbukaan dalam pelaksanaan pekerjaan ini biasanya membuka peluang adanya kritik dan saran yang membangun bagi kelangsungan sebuah program. Terbuka berarti siap untuk dikritik. Bagi orang ataupun lembaga yang terbuka kritik bukanlah sesuatu yang menyakitkan dan pihak yang mengkritik akan berusaha untuk menghargai dan dilakukan dengan bijak. Kritik akan menjadi pemicu agar pekerjaan menjadi semakin baik dan berkualitas sehingga hasilnya diharapkan memuaskan dan meminimalkan kecurigaan. Semua pihak merasa dilibatkan untuk mensukseskan program sehingga tidak akan terjadi saling menyalahkan. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, akan  memunculkan solusi dan semua pihak akan memahami.
Semangat keterbukaan seperti yang telah penulis uraikan diatas merupakan bukti bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang mudah yang bisa dilakukan oleh perseorangan maupun kelompok. Jika ada yang mudah mengapa harus mempersulit diri untuk berbuat tidak jujur? .
Nur Sabani, 25-2-2018

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI