Ketika akan memulai menulis, saya teringat dengan rekan senior saya Bu Inten. Dia sering mengatakan "sayang" pada teman dan anak didiknya. Bahkan terkadang teman-teman guru meledeknya dengan kata sayang serupa padanya. Intonasi khas kata sayang ala Bu Inten ini sudah menjadi ciri khasnya. Untung saja kata ini meluncur dari Bu Inten. Bukan berarti saya mengatakan Bu Inten sudah tua, karena beliau masih berusia di bawah 50 tahun. Saya bayangkan, jika yang mengatakannya Bu Ristin, guru muda seusia saya. Apalagi jika Bu Ristin mengucapkannya pada guru pria, akan beda rasanya. Menariknya kata sayang Bu Inten ini sering terucap ketika dia harusnya tersinggung atau marah dengan teman lainnya. “Jangan Begitu, sayang”. Atau dengan nada humor kata itu keluar ketika memohon sesuatu. Sayang yang keluar dari Bu Inten bukan sayang-nya anak muda pada pujaannya.
Siapa sih yang tidak akan luluh dengan kata sayang? Meski ketika saya mengucapkannya justru istri saya akan bilang saya Alay. Tapi saya kira ada pengaruh positif jika seorang guru mengucapkan pada siswanya. Tentu, jika yang mengucapkan Bu Guru kepada siswa perempuan, bukan siswa laki-laki. Kecuali jika siswanya masih di bawah umur. Saya juga tidak sepakat jika kata sayang diucapkan Pak Guru kepada siswa perempuan. Ini akan bertambah runyam lagi. Tidak lumrah jika Pak Guru mengucapkan Sayang pada siswa laki-laki, nanti dikira LGBT. Selain menambah kedekatan emosi kata sayang mungkin akan mencairkan suasana dan mendinginkan hati bagi yang emosi.
Belajar dari Bu Inten, kata sayang justru terucap ketika harusnya sedang terbawa emosi. Ciri kedewasaan seseorang adalah ketika mampu mengendalikan emosinya. Ada kisah menarik tentang kenakalan As-Sudais sewaktu kecil. Ketika sang Ibu sedang menyiapkan makanan untuk jamuan tamu, tiba-tiba As-Sudais masuk rumah sambil menggengan pasir dan ditaburkan dihidangan yang telah disajikan. Ibunya lantas memarahinya dengan berkata : Pergi! Semoga Allah menjadikanmu Imam Masjidil Haram. Kemarahan ibunya terkabul, Syekh Abdurrahman as-Sudais akhirnya menjadi Imam Masjidil Haram. Bacaan yang merdu ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an bahkan sering kita dengar.
Seorang guru setiap hari berinteraksi dengan muridnya dengan beragam perangai dan tingkah laku. Tidak sedikit membuat guru marah, meskipun dalam kadar yang berbeda-beda. Marah guru adalah wujud ketegasan ketika ada perilaku yang tidak wajar dilakukan oleh muridnya. Dengan begitu seorang murid akan belajar menghindar dari berperilaku yang tidak menyebabkan kemarahan gurunya. Boleh dikatakan manusiawi jika seorang guru marah, meski demikian harus tetap bisa mengontrol diri dan tidak menyimpang dari etika akademis. Jangan sampai menjadikan hati murid terluka dan membenci.
“Marah tanda sayang”. Begitulah ucapan kita setiap anak protes ketika orang tua marah. Demikian pula marahnya guru bukan berarti membenci siswanya. Tapi marah guru adalah simbol dari “Cinta” kepada muridnya, seperti marahnya orang tua pada anaknya. Guru harus berusaha agar kemarahannya tidak sampai merembet ke”hati”, sehingga merusak sinyal barokah ilmu kepada muridnya. Akan lebih baik jika ketika emosi justru do’a yang terbesit dalam hati guru untuk kebaikan muridnya, seperti kisah as-Sudais diatas.
Saya akhiri tulisan ini dengan nasehat dari KH. Maimoen Zubair : “Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju sorga,”
Siapa sih yang tidak akan luluh dengan kata sayang? Meski ketika saya mengucapkannya justru istri saya akan bilang saya Alay. Tapi saya kira ada pengaruh positif jika seorang guru mengucapkan pada siswanya. Tentu, jika yang mengucapkan Bu Guru kepada siswa perempuan, bukan siswa laki-laki. Kecuali jika siswanya masih di bawah umur. Saya juga tidak sepakat jika kata sayang diucapkan Pak Guru kepada siswa perempuan. Ini akan bertambah runyam lagi. Tidak lumrah jika Pak Guru mengucapkan Sayang pada siswa laki-laki, nanti dikira LGBT. Selain menambah kedekatan emosi kata sayang mungkin akan mencairkan suasana dan mendinginkan hati bagi yang emosi.
Belajar dari Bu Inten, kata sayang justru terucap ketika harusnya sedang terbawa emosi. Ciri kedewasaan seseorang adalah ketika mampu mengendalikan emosinya. Ada kisah menarik tentang kenakalan As-Sudais sewaktu kecil. Ketika sang Ibu sedang menyiapkan makanan untuk jamuan tamu, tiba-tiba As-Sudais masuk rumah sambil menggengan pasir dan ditaburkan dihidangan yang telah disajikan. Ibunya lantas memarahinya dengan berkata : Pergi! Semoga Allah menjadikanmu Imam Masjidil Haram. Kemarahan ibunya terkabul, Syekh Abdurrahman as-Sudais akhirnya menjadi Imam Masjidil Haram. Bacaan yang merdu ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an bahkan sering kita dengar.
Seorang guru setiap hari berinteraksi dengan muridnya dengan beragam perangai dan tingkah laku. Tidak sedikit membuat guru marah, meskipun dalam kadar yang berbeda-beda. Marah guru adalah wujud ketegasan ketika ada perilaku yang tidak wajar dilakukan oleh muridnya. Dengan begitu seorang murid akan belajar menghindar dari berperilaku yang tidak menyebabkan kemarahan gurunya. Boleh dikatakan manusiawi jika seorang guru marah, meski demikian harus tetap bisa mengontrol diri dan tidak menyimpang dari etika akademis. Jangan sampai menjadikan hati murid terluka dan membenci.
“Marah tanda sayang”. Begitulah ucapan kita setiap anak protes ketika orang tua marah. Demikian pula marahnya guru bukan berarti membenci siswanya. Tapi marah guru adalah simbol dari “Cinta” kepada muridnya, seperti marahnya orang tua pada anaknya. Guru harus berusaha agar kemarahannya tidak sampai merembet ke”hati”, sehingga merusak sinyal barokah ilmu kepada muridnya. Akan lebih baik jika ketika emosi justru do’a yang terbesit dalam hati guru untuk kebaikan muridnya, seperti kisah as-Sudais diatas.
Saya akhiri tulisan ini dengan nasehat dari KH. Maimoen Zubair : “Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju sorga,”










