Toleran

Agar engkau bisa bijak dalam menyikapi sesuatu dan tidak menganggap menjadi makhluk paling sempurna.

Bersama untuk berbagi

Berbagi informasi adalah belajar transparansi. Mnjadi sarana untuk memperbaiki diri.

Mendidik dengan cinta

Menjadikan pembelajaran bermakna. Memandang siswa memiliki kesempatan memiliki pengetahuan dengan bermacam kecerdasan yang mereka miliki.

Agama sebagai pondasi keyakinan hidup

Tanpa memandang remeh keyakinan lain.

Kamis, 01 Maret 2018

JUJUR TANPA MENYAKITI

Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta, tinggalkan aku, bila tak mungkin bersama, jauhi diriku, lupakanlah aku, selamanya.

Syair di atas merupakan contoh bahwa kebohongan sangat menyakitkan hati, apalagi kebohongan adanya rasa cinta. Tuntutan untuk berkata jujur dari lagu group Band Radja tersebut sebagai bagian dari protes adanya manipulasi kebaikan yang semu.  Kasus serupa, sangat mungkin terjadi di lingkungan kita. Kebohongan kadang dilakukan demi menjaga perasaan seseorang. Bahkan alasan kebaikan kadang masih menyertai sebagai argumen ketidakjujuran.

Berkata apa adanya terasa sangat berat apalagi menyangkut perasaan orang-orang yang dekat atau yang orang yang disegani. Butuh sebuah keberanian untuk mengatakan hal yang mungkin akan sangat mengecewakan bagi pihak tersebut. Dalam kondisi ini, maka banyak orang yang memilih untuk diam tanpa pendapat, atau bahkan mengikuti meskipun berkecamuk dalam hati. Kondisi ini justru akan berkibat pada kegelisahan diri maupun orang sekitar kita. Kenyataan atau kebenaran yang ditutup tutupi bisa saja kelak akan menjadi hambatan untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai bersama.

Apapun bentuk pengingkaran terhadap nilai kebenaran adalah bentuk kebohongan yang tidak bisa dijadikan solusi untuk pembenaran perbuatan seseorang. Kebohongan yang dilakukan dengan dalih menjaga perasaan ataupun bentuk penghormatan secara tidak langsung malah akan menjerumuskan orang lain. Untuk itulah, pada kondisi sesulit apapun kita harus berusaha mengatakan kebenaran.  Pada awalnya mungkin akan mengecewakan, tapi pada masanya nanti justru orang tersebut merasakan manfaat  serta membenarkan sikap kita.

Meski demikian, dalam mengatakan kebenaran juga harus dilakukan dengan santun tanpa menggurui. Apalagi mengatakan bentuk kebenaran dengan mengolok-olok dan mempermalukan orang. Bukan tidak mungkin menjadikan pihak tersebut berang dan melawan dengan semakin nekat melakukan kesalahan. Kebenaran yang kita katakan malah akan dianggap sebagai musuh yang harus dikalahkan, sehingga tujuan dari kejujuran tidak akan tercapai. Mengatakan kebenaran sebisa mungkin dilakukan tanpa menyinggung perasaan dan tanpa menghakimi yang menjadikan pihak lain menyadari sepenuh hati untuk berbuat sesuai dengan norma dan kebenaran yang diyakini. Katakan yang benar walaupun terasa pahit.

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI