Nama adalah identitas pemberian orang tua dimana memberi sebuah nama merupakan kewajiban orang tua. Kadang orangtua sampai bingung dan istikharoh untuk merangkai nama sebagai hadiah pertama untuk anaknya. Tidak jarang orang tua konsultasi atau meminta berkah nama dari tokoh agama agar semakin yakin akan kebenaran nama tersebut baik diliat dari struktur bahasa maupun makna yang dikandungnya. Kita bisa merasakan sakit hatinya orang tua jika anaknya dipanggil dengan nama yang tidak sesuai bahkan mungkin mengandung arti yang buruk.
Dr. Pam Spur, pengamat perilaku dari Inggris mengaitkan nama dengan perilaku seorang anak bisa berakibat positif atupun sebaliknya. Demikian pula nama-nama tradisional kuno yang telah mengakar pada budaya daerah mempunyai kecenderungan lebih positif (m.detik.com). Selain perilaku, ada penelitian menarik bahwa nama siswa dapat mempengaruhi sebuah penilaian. Paper yang ditulis oleh Michael atau David akan cenderung dinilai lebih tinggi daripada paper sama yang ditulis oleh Elmer atau Hubert. Untuk anak perempuan, nama Adelle lebih tinggi nilainya daripada Karen (Anita E. Woolfolk: 2014). Di Indonesia mungkin tugas yang dikerjakan oleh Syahrir dan Nur Hayati akan cenderung dinilai tinggi daripada tugas yang dikerjakan Yadi dan Poniyah.
Nama panggilan (nick name) biasanya diambil dari potongan nama lengkap seseorang. Membahas nama panggilan, acapkali terucap tanpa dipikirkan efeknya. Kita mungkin pernah memanggil siswa tanpa mengetahui dengan tepat nama panggilan hariannya. Bahkan dengan sengaja memberi nama panggilan baru sesuai keinginan, yang belum tentu disukainya. Sebagai contoh, tanpa konfirmasi terlebih dulu kita memanggil Ilfan Zumani dengan panggilan Zum, atau Mani. Abdul Rozaq, dengan memanggil Dul. Almas Salwa dipanggil Mas. Nur Sabani dengan panggilan Ban. Lebih bijak apabila kita mempertimbangkan like atau dislike sebelum menyebut nama panggilan seseorang. Pertimbangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah mengetahui arti dari sebuah nama panggilan yang akan kita gunakan.
Pemberian nama anak selain bermanfaat untuk identitas, juga mengandung do’a dan motivasi bagi yang diberi nama. Etika pemberian nama dalam Islam banyak terdapat dalam hadits maupun pendapat para ulama. Beberapa rekomondasi nama yang dianjurkan antara lain nama yang berarti bentuk penghambaan kepada Allah, nama yang mengandung arti positif, kegembiraan, dan mempunyai nilai optimisme. Sedangkan nama yang sebaiknya dihindari antara lain yang mengandung arti keburukan, kesedihan, dan nama yang mengandung nilai pesimisme. Nama yang berupa cacian, ejekan, bahkan pujian yang berlebihan juga dilarang. Nabi Muhammad SAW pernah mengganti nama seorang yang bernama Barrah yang mengandung arti bangga dengan dirinya sendiri dengan nama Zainab. Sikap nabi tersebut secara tidak langsung memberi pelajaran pentingnya sebuah nama panggilan.
Meski hanya sebuah panggilan, guru tidak sepatutnya memberi nama panggilan sembarangan. Apalagi jika guru memanggil anak dengan panggilan yang berbeda dengan nama kesehariannya. Memahami arti yang terkandung dari nama panggilan seorang anak sangat penting. Sehingga guru bisa mengoreksi jika ada anak yang terlanjur diberi nama panggilan yang berkonotasi buruk.
Nur Sabani






0 komentar:
Posting Komentar
KOMENTAR :