Toleran
Agar engkau bisa bijak dalam menyikapi sesuatu dan tidak menganggap menjadi makhluk paling sempurna.
Bersama untuk berbagi
Berbagi informasi adalah belajar transparansi. Mnjadi sarana untuk memperbaiki diri.
Mendidik dengan cinta
Menjadikan pembelajaran bermakna. Memandang siswa memiliki kesempatan memiliki pengetahuan dengan bermacam kecerdasan yang mereka miliki.
Agama sebagai pondasi keyakinan hidup
Tanpa memandang remeh keyakinan lain.
Senin, 30 Desember 2024
Selasa, 14 Juli 2020
IMAN KEPADA HARI AKHIR
PENGERTIAN IMAN KEPADA HARI AKHIR
Hari akhir sering disebut sebagai hari kiamat. Hari akhir adalah hari dimana dunia dan seiisinya rusak binasa (hancur) dan tidak ada kehidupan lagi.
Beriman kepada hari akhir adalah percaya dengan sepenuh hati bahwa suatu saat alam semesta dan seisinya akan hancur dan berakhir. Kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Kehidupan akhirat tiada pernah berakhir.
Golongan orang yang Percaya pada hari Akhir:
Dalil Akli
Adalah dalil yang bersumber dari akal manusia baik berasal dari pengetahuan, penelitian, maupun pendapat ahli. Adapun dalil akli Kiamat antara lain:
1. QS. al-A’raf:187
Hari akhir sering disebut sebagai hari kiamat. Hari akhir adalah hari dimana dunia dan seiisinya rusak binasa (hancur) dan tidak ada kehidupan lagi.
Beriman kepada hari akhir adalah percaya dengan sepenuh hati bahwa suatu saat alam semesta dan seisinya akan hancur dan berakhir. Kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Kehidupan akhirat tiada pernah berakhir.
Golongan orang yang Percaya pada hari Akhir:
- Golongan atheis, yaitu golongan manusia yang mengingkari atau tidak mempercayai adanya hari akhir, juga disebut mulhid (tidak mempercayai adanya tuhan).
- Golongan agama ardli (agama yang dibuat manusia), golongan ini mempercayai adanya reinkarnasi yaitu penjelmaan roh manusia
- Golongan agama samawi (agama yang berasal dari Allah), yaitu golongan manusia yang mempercayai adanya hari akhir dan adanya kehidupan akhirat.
Dalil Akli
Adalah dalil yang bersumber dari akal manusia baik berasal dari pengetahuan, penelitian, maupun pendapat ahli. Adapun dalil akli Kiamat antara lain:
- Pakar ilmu pengetahuan mengatakan bahwa matahari sebagai sumber energi dalam bentuk bola api yang sangat besar dan sangat panas suatu saat akan kehilangan cahayanya. Mula-mula ditandai dengan keadaannya yang semakin mengecil karena setiap detik matahari kehilangan beratnya sekitar 4.000.000 ton. Lalu habis dan alam semesta beserta isinya akan hancur.
- Pendapat lain dari Sarjana Astronomi Jh. Van Vierngen dan kawan-kawannya. Mereka memperkirakan bahwa alam semesta ini akan meletus akibat dari pengembangan yang terus menerus tanpa batas. Diumpamakan seseorang yang meniup balon terus menerus tanpa henti maka balon tersebut akan meledak
- Ahli berpendapat bahwa rotasi dan revolusi benda langit tidak abadi suatu saat berakhir.
1. QS. al-A’raf:187
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ
ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ
حَفِىٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّى لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَ ثَقُلَتۡ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَا تَأۡتِيكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةً يَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِىٌّ عَنۡهَا قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
Artinya: Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?"
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada
sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu
kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi
makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang
kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu
seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya
pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui".
2. QS. Tahaa: 15
إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ
Artinya: "Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan" (QS. Thaha: 15)
إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ
Referensi: https://tafsirweb.com/5257-quran-surat-thaha-ayat-15.html
Referensi: https://tafsirweb.com/5257-quran-surat-thaha-ayat-15.html
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ
ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ
حَفِىٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ
ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ
حَفِىٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
Referensi: https://tafsirweb.com/2641-quran-surat-al-araf-ayat-187.html
Sabtu, 07 September 2019
PERBEDAAN FISIK SISWA
If we cannot now end our differences, at least we can help make the world safe for diversity
Jika kita tidak bisa mengakhiri karena perbedaan perbedaan kita, paling tidak kita dapat membantu dunia aman untuk keanekaragaman (John F.Kennedy)
Fisik dan PenampilanSeorang guru dalam pembelajaran di kelas akan bersinggungan dengan banyaknya perbedaan peserta didik. Perbedaan yang mudah diketahui langsung adalah perbedaan fisik dan penampilan. Ada siswa yang berbadan gemuk dan kurus, bertubuh tinggi dan pendek, berkulit hitam dan kuning, dan sebagainya. Bentuk fisik seseorang merupakan bawaan dari lahir yang kebanyakan terjadi karena unsur genetik. Manfaat dari bentuk fisik yang berbeda adalah menjadikan seseorang mudah dikenal oleh orang lain, karena mempunyai bentuk dan ciri fisik yang berbeda.
Mensikapi perbedaan fisik, guru harus berusaha menghindar menyapa dengan menggunakan panggilan yang berasal dari ciri fisik siswa yang buruk seperti gendut, gembrot, pendek, kurus atau hitam. Memanggil dengan julukan buruk sama dengan membully seseorang dengan verbal. Efek bullying memang tidak terasa pada fisik anak, akan tetapi dalam jangka panjang sangat berefek pada psikologis anak. Dampaknya akan menurunkan harga diri seorang anak, dan akhirnya menyebabkan kurang percaya diri.
Secara tidak sadar, perbuatan bullying pernah kita lakukan, meski dengan cara humor yang membuat tertawa orang yang mendengarkan. Ragam bentuk bully yang juga sering dipraktikkan tanpa sadar adalah melalui mimik, dan bahasa tubuh. Guru yang memberikan julukan buruk kepada anak di kelas, secara tidak langsung telah memberi contoh siswa lain untuk bersikap sombong. Seakan dia merasa lebih baik sehingga berhak melecehkan orang lain. Peserta didik lain yang ikut menyaksikan aksi bully dari guru suatu saat akan meniru perbuatan gurunya.
Selain fisik, anak mudah dikenali karena faktor penampilan. Penampilan biasanya dikaitkan dengan sikap, ekspresi, gaya bicara, kesehatan, kebersihan, dan busana. Sebagai contoh, ada anak yang pakaiannya rapih atau kusut, rambutnya tertata atau semrawut, bermata bundar atau sipit. Anak yang berpenampilan baik, rapih, dan selalu tampil bersih cenderung mendapat perhatian dan lebih dihargai daripada anak yang penampilannya apa adanya. Sebaliknya anak yang pakaiannya tidak rapih, kusut, kotor cenderung dikaitkan dengan sikapnya yang malas dan jorok.
Pepatah jawa mengatakan Ajining Rogo soko Busono, yang artinya Kehormatan raga berasal dari cara berpakaian. Pepatah kuno ini menginformasikan bahwa badan (raga) akan terlihat berharga dan menarik jika diberi pakaian yang indah. Secara umum, manusia akan dihormati jika busananya baik,sopan,dan rapih. Pada sisi lain, manusia juga diberi naluri senang dengan penampilan yang menarik. Bahkan cara berpakaian sudah menjadi bagian dari ciri-ciri status sosial seseorang. Pepatah jawa ini sama sekali tidak mengaitkan pakaian dengan kepribadian. Untuk itu, kita tidak boleh langsung menjustifikasi keburukan seseorang melalui tampilan lahirnya, karena cara ini tidak sepenuhnya akurat apalagi terhadap anak yang masih lugu. Pakaian bukan menjadi tolak ukur baik dan buruknya anak.
Penampilan juga dipengaruhi oleh hal-hal yang sedang menimpa seseorang baik kondisi ekonomi maupun adat. Mungkin saja dia berbadan lemas karena belum sarapan, atau penyakit bawaan. Kondisi orang tua juga bisa menjadi faktor penyebab penampilan seorang anak. Orang tua yang status ekonominya minim berakibat pada anak kekurangan gizi sehingga penampilannya kurang ceri, pakaian kusut, celana cungklang ataupun terlihat kotor. Penilaian kita terhadap kepribadian anak seharusnya didasari dengan berbagai analisa yang obyektif dengan melihat dari berbagai faktor.
Jika beda Fisik menjadi bahan konflik
Perbedaan fisik sering menjadi faktor terjadinya konflik di kelas. Penyebabnya kadang hanya karena gurauan siswa yang berakhir dengan penghinaan. Tak jarang celaan dan penghinaan membawa bawa kelemahan fisik seseorang. Kondisi demikian mengharuskan guru untuk menyadarkan siswa agar saling menghargai dan menjaga perasaan teman. Selanjutnya guru juga perlu mengidentifikasi faktor penyebab konflik kelas terjadi. Selain disebabkan gurauan, iri, dendam, keaktifan anak, dan kurangnya perhatian guru, bisa saja memicu munculnya konflik di kelas.
Siswa harus diingatkan bahwa kelainan fisik dalam bentuk apapun adalah pemberian tuhan yang tidak boleh dicela. Menghina ciptaan tuhan bisa berakibat negatif dalam kehidupan seseorang. Bisa saja, orang yang dihina suatu saat nasibnya akan lebih baik daripada orang yang menghina. Bagaimanapun juga, seorang anak tidak pernah meminta dilahirkan dengan kondisi berbeda dengan yang lain. Untuk itulah sikap empati perlu dikedepankan agar kondisi kelas terjaga keharmoniannya.
Kelemahan fisik bukan sebagai faktor penentu keberhasilan seseorang. Banyak tokoh monumental yang menggapai kesuksesan meskipun fisik menjadi titik lemahnya. Sebut saja Stevie Wonder seorang penyanyi terkenal, komposer, dan produser sudah masuk dapur rekaman meski menderita buta sejak lahir. Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika pada era perang dunia II yang memimpin amerika dengan duduk di kursi roda karena menderita volio. Sejarah Islam juga mencatat bahwa Bilal bin Rabbah adalah seorang budak berkulit hitam yang terjamin masuk surga walaupun dalam kondisi fisik dan penampilan yang berbeda dari masyarakat pada saat itu.
Siswa korban bully juga harus diberi motivasi agar perbuatan temannya tidak mengurangi kepercayaan diri baik di kelas maupun dalam kehidupan nantinya. Pemberian contoh tokoh fenomenal seperti yang telah disebutkan diatas, diharapkan bisa memupuk kepercayaan diri peserta didik. Kasus tokoh, dan selebriti yang pernah mengalami kekerasan verbal juga bisa disampaikan ketika menyampaikan motivasi.
Adalah Giring, sang Vokalis Group Band Nidji saat kecil pernah menjadi korban ejekan teman-temannya. Menurut pengakuannya saat kecil teman-temannya mengejek dengan memanggil “giring Bola “ padanya. Artis yang kecilnya berbadan kurus dan berambut keriting ini pernah merasakan stress dan berujung protes kepada orang tuanya tentang nama giring. Ternyata namanya diambil dari Nama tokoh yang membawa Agama Islam di Indonesia yaitu Ki Ageng Giring. Mengetahui makna dibalik namanya, giring akhirnya bangkit dan percaya diri dengan namanya. Akhirnya dia bahkan bisa terkenal dengan nama yang awalnya dianggap aneh oleh teman temannya.
Guru juga harus membekali kepada anak yang sering menjadi korban bully agar tidak terpancing emosi. Ketika bully teman-teman ditanggapi dengan emosi, maka korban akan selalu menjadi langganan. Berbeda jika korban mendiamkan, ejekan ataupun hinaan tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan.
Nur Sabani
Jika kita tidak bisa mengakhiri karena perbedaan perbedaan kita, paling tidak kita dapat membantu dunia aman untuk keanekaragaman (John F.Kennedy)
Fisik dan PenampilanSeorang guru dalam pembelajaran di kelas akan bersinggungan dengan banyaknya perbedaan peserta didik. Perbedaan yang mudah diketahui langsung adalah perbedaan fisik dan penampilan. Ada siswa yang berbadan gemuk dan kurus, bertubuh tinggi dan pendek, berkulit hitam dan kuning, dan sebagainya. Bentuk fisik seseorang merupakan bawaan dari lahir yang kebanyakan terjadi karena unsur genetik. Manfaat dari bentuk fisik yang berbeda adalah menjadikan seseorang mudah dikenal oleh orang lain, karena mempunyai bentuk dan ciri fisik yang berbeda.
Mensikapi perbedaan fisik, guru harus berusaha menghindar menyapa dengan menggunakan panggilan yang berasal dari ciri fisik siswa yang buruk seperti gendut, gembrot, pendek, kurus atau hitam. Memanggil dengan julukan buruk sama dengan membully seseorang dengan verbal. Efek bullying memang tidak terasa pada fisik anak, akan tetapi dalam jangka panjang sangat berefek pada psikologis anak. Dampaknya akan menurunkan harga diri seorang anak, dan akhirnya menyebabkan kurang percaya diri.
Secara tidak sadar, perbuatan bullying pernah kita lakukan, meski dengan cara humor yang membuat tertawa orang yang mendengarkan. Ragam bentuk bully yang juga sering dipraktikkan tanpa sadar adalah melalui mimik, dan bahasa tubuh. Guru yang memberikan julukan buruk kepada anak di kelas, secara tidak langsung telah memberi contoh siswa lain untuk bersikap sombong. Seakan dia merasa lebih baik sehingga berhak melecehkan orang lain. Peserta didik lain yang ikut menyaksikan aksi bully dari guru suatu saat akan meniru perbuatan gurunya.
Selain fisik, anak mudah dikenali karena faktor penampilan. Penampilan biasanya dikaitkan dengan sikap, ekspresi, gaya bicara, kesehatan, kebersihan, dan busana. Sebagai contoh, ada anak yang pakaiannya rapih atau kusut, rambutnya tertata atau semrawut, bermata bundar atau sipit. Anak yang berpenampilan baik, rapih, dan selalu tampil bersih cenderung mendapat perhatian dan lebih dihargai daripada anak yang penampilannya apa adanya. Sebaliknya anak yang pakaiannya tidak rapih, kusut, kotor cenderung dikaitkan dengan sikapnya yang malas dan jorok.
Pepatah jawa mengatakan Ajining Rogo soko Busono, yang artinya Kehormatan raga berasal dari cara berpakaian. Pepatah kuno ini menginformasikan bahwa badan (raga) akan terlihat berharga dan menarik jika diberi pakaian yang indah. Secara umum, manusia akan dihormati jika busananya baik,sopan,dan rapih. Pada sisi lain, manusia juga diberi naluri senang dengan penampilan yang menarik. Bahkan cara berpakaian sudah menjadi bagian dari ciri-ciri status sosial seseorang. Pepatah jawa ini sama sekali tidak mengaitkan pakaian dengan kepribadian. Untuk itu, kita tidak boleh langsung menjustifikasi keburukan seseorang melalui tampilan lahirnya, karena cara ini tidak sepenuhnya akurat apalagi terhadap anak yang masih lugu. Pakaian bukan menjadi tolak ukur baik dan buruknya anak.
Penampilan juga dipengaruhi oleh hal-hal yang sedang menimpa seseorang baik kondisi ekonomi maupun adat. Mungkin saja dia berbadan lemas karena belum sarapan, atau penyakit bawaan. Kondisi orang tua juga bisa menjadi faktor penyebab penampilan seorang anak. Orang tua yang status ekonominya minim berakibat pada anak kekurangan gizi sehingga penampilannya kurang ceri, pakaian kusut, celana cungklang ataupun terlihat kotor. Penilaian kita terhadap kepribadian anak seharusnya didasari dengan berbagai analisa yang obyektif dengan melihat dari berbagai faktor.
Jika beda Fisik menjadi bahan konflik
Perbedaan fisik sering menjadi faktor terjadinya konflik di kelas. Penyebabnya kadang hanya karena gurauan siswa yang berakhir dengan penghinaan. Tak jarang celaan dan penghinaan membawa bawa kelemahan fisik seseorang. Kondisi demikian mengharuskan guru untuk menyadarkan siswa agar saling menghargai dan menjaga perasaan teman. Selanjutnya guru juga perlu mengidentifikasi faktor penyebab konflik kelas terjadi. Selain disebabkan gurauan, iri, dendam, keaktifan anak, dan kurangnya perhatian guru, bisa saja memicu munculnya konflik di kelas.
Siswa harus diingatkan bahwa kelainan fisik dalam bentuk apapun adalah pemberian tuhan yang tidak boleh dicela. Menghina ciptaan tuhan bisa berakibat negatif dalam kehidupan seseorang. Bisa saja, orang yang dihina suatu saat nasibnya akan lebih baik daripada orang yang menghina. Bagaimanapun juga, seorang anak tidak pernah meminta dilahirkan dengan kondisi berbeda dengan yang lain. Untuk itulah sikap empati perlu dikedepankan agar kondisi kelas terjaga keharmoniannya.
Kelemahan fisik bukan sebagai faktor penentu keberhasilan seseorang. Banyak tokoh monumental yang menggapai kesuksesan meskipun fisik menjadi titik lemahnya. Sebut saja Stevie Wonder seorang penyanyi terkenal, komposer, dan produser sudah masuk dapur rekaman meski menderita buta sejak lahir. Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika pada era perang dunia II yang memimpin amerika dengan duduk di kursi roda karena menderita volio. Sejarah Islam juga mencatat bahwa Bilal bin Rabbah adalah seorang budak berkulit hitam yang terjamin masuk surga walaupun dalam kondisi fisik dan penampilan yang berbeda dari masyarakat pada saat itu.
Siswa korban bully juga harus diberi motivasi agar perbuatan temannya tidak mengurangi kepercayaan diri baik di kelas maupun dalam kehidupan nantinya. Pemberian contoh tokoh fenomenal seperti yang telah disebutkan diatas, diharapkan bisa memupuk kepercayaan diri peserta didik. Kasus tokoh, dan selebriti yang pernah mengalami kekerasan verbal juga bisa disampaikan ketika menyampaikan motivasi.
Adalah Giring, sang Vokalis Group Band Nidji saat kecil pernah menjadi korban ejekan teman-temannya. Menurut pengakuannya saat kecil teman-temannya mengejek dengan memanggil “giring Bola “ padanya. Artis yang kecilnya berbadan kurus dan berambut keriting ini pernah merasakan stress dan berujung protes kepada orang tuanya tentang nama giring. Ternyata namanya diambil dari Nama tokoh yang membawa Agama Islam di Indonesia yaitu Ki Ageng Giring. Mengetahui makna dibalik namanya, giring akhirnya bangkit dan percaya diri dengan namanya. Akhirnya dia bahkan bisa terkenal dengan nama yang awalnya dianggap aneh oleh teman temannya.
Guru juga harus membekali kepada anak yang sering menjadi korban bully agar tidak terpancing emosi. Ketika bully teman-teman ditanggapi dengan emosi, maka korban akan selalu menjadi langganan. Berbeda jika korban mendiamkan, ejekan ataupun hinaan tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan.
Nur Sabani
PANGGILAN BERMAKNA
Nama adalah identitas pemberian orang tua dimana memberi sebuah nama merupakan kewajiban orang tua. Kadang orangtua sampai bingung dan istikharoh untuk merangkai nama sebagai hadiah pertama untuk anaknya. Tidak jarang orang tua konsultasi atau meminta berkah nama dari tokoh agama agar semakin yakin akan kebenaran nama tersebut baik diliat dari struktur bahasa maupun makna yang dikandungnya. Kita bisa merasakan sakit hatinya orang tua jika anaknya dipanggil dengan nama yang tidak sesuai bahkan mungkin mengandung arti yang buruk.
Dr. Pam Spur, pengamat perilaku dari Inggris mengaitkan nama dengan perilaku seorang anak bisa berakibat positif atupun sebaliknya. Demikian pula nama-nama tradisional kuno yang telah mengakar pada budaya daerah mempunyai kecenderungan lebih positif (m.detik.com). Selain perilaku, ada penelitian menarik bahwa nama siswa dapat mempengaruhi sebuah penilaian. Paper yang ditulis oleh Michael atau David akan cenderung dinilai lebih tinggi daripada paper sama yang ditulis oleh Elmer atau Hubert. Untuk anak perempuan, nama Adelle lebih tinggi nilainya daripada Karen (Anita E. Woolfolk: 2014). Di Indonesia mungkin tugas yang dikerjakan oleh Syahrir dan Nur Hayati akan cenderung dinilai tinggi daripada tugas yang dikerjakan Yadi dan Poniyah.
Nama panggilan (nick name) biasanya diambil dari potongan nama lengkap seseorang. Membahas nama panggilan, acapkali terucap tanpa dipikirkan efeknya. Kita mungkin pernah memanggil siswa tanpa mengetahui dengan tepat nama panggilan hariannya. Bahkan dengan sengaja memberi nama panggilan baru sesuai keinginan, yang belum tentu disukainya. Sebagai contoh, tanpa konfirmasi terlebih dulu kita memanggil Ilfan Zumani dengan panggilan Zum, atau Mani. Abdul Rozaq, dengan memanggil Dul. Almas Salwa dipanggil Mas. Nur Sabani dengan panggilan Ban. Lebih bijak apabila kita mempertimbangkan like atau dislike sebelum menyebut nama panggilan seseorang. Pertimbangan lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah mengetahui arti dari sebuah nama panggilan yang akan kita gunakan.
Pemberian nama anak selain bermanfaat untuk identitas, juga mengandung do’a dan motivasi bagi yang diberi nama. Etika pemberian nama dalam Islam banyak terdapat dalam hadits maupun pendapat para ulama. Beberapa rekomondasi nama yang dianjurkan antara lain nama yang berarti bentuk penghambaan kepada Allah, nama yang mengandung arti positif, kegembiraan, dan mempunyai nilai optimisme. Sedangkan nama yang sebaiknya dihindari antara lain yang mengandung arti keburukan, kesedihan, dan nama yang mengandung nilai pesimisme. Nama yang berupa cacian, ejekan, bahkan pujian yang berlebihan juga dilarang. Nabi Muhammad SAW pernah mengganti nama seorang yang bernama Barrah yang mengandung arti bangga dengan dirinya sendiri dengan nama Zainab. Sikap nabi tersebut secara tidak langsung memberi pelajaran pentingnya sebuah nama panggilan.
Meski hanya sebuah panggilan, guru tidak sepatutnya memberi nama panggilan sembarangan. Apalagi jika guru memanggil anak dengan panggilan yang berbeda dengan nama kesehariannya. Memahami arti yang terkandung dari nama panggilan seorang anak sangat penting. Sehingga guru bisa mengoreksi jika ada anak yang terlanjur diberi nama panggilan yang berkonotasi buruk.
Nur Sabani
PANGGILAN MESRA SEORANG GURU
Seri Panggilan Mesra
“Mas, Mba, ayo kerjakan dengan teliti dan mandiri. Jangan kerja sama ya.... “
“Mas Andi, tolong Ibu. Hapus papan tulisnya,!”
Ucapan guru di atas adalah dialek panggilan dari dari Guru yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Meskipun panggilan Mas dan Mba juga digunakan di daerah luar jawa tengah akibat akulturasi bahasa. Panggilan mas dan mba sepadan dengan AA dan teteh di Jawa Barat, Uda dan uni di Padang, dan Cak dan ning di Jawa Timur, ataupun Kaka dan Tata di Gorontalo. Panggilan ini lazimnya digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dalam Praktiknya panggilan tersebut juga digunakan orang tua untuk memberi penghargaan kepada anak yang usianya lebih muda.
Jika guru menggunakan panggilan Mas, mba, dan semisalnya, peserta didik akan merasa dihargai dan dihormati. Saya melihat sendiri, Bu Rini, rekan saya ketika menggunakan panggilan mbak di kelas yang diampunya. Penghormatan ini akan menaklukkan hati siswa sehingga dia menuruti perintah ataupun larangan gurunya. Panggilan disertai dengan nama yang dilakukan seorang guru ini semakin mengena jika siswa di rumah belum mendapat penghargaan yang serupa dari orang tuanya. Meskipun demikian dialeg dan intonasi juga sangat mempengaruhi keampuhan sebuah panggilan. Mengucapkan kata mba dengan kata kasar dan mata melotot apalagi disertai dengan tangan yang mengepal bagaikan pistol bagus yang tidak ada pelurunya.
Meskipun belum ada penelitian dampak dari memanggil dengan sapaan Mas dan Mba terhadap perilaku siswa, saya yakin anda semua sepakat bahwa penghormatan kepada peserta didik akan mempengaruhi perilakunya. Ada pendapat menarik dari Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi yang menyimpulkan bahwa memanggil Kakak terhadap anak sulung berpengaruh pada kemandirian dan tanggung jawab anak. Memanggil anak dengan sapaan baik adalah wujud penghormatan. Penghormatan guru kepada murid selain melalui sapaan juga diaplikasikan melalui perhatian, dan perbuatan nyata. Mungkin anda akan bertanya “Penghormatan kepada murid? Apa tidak terbalik?”. Pertanyaan yang hampir sama ketika ada seorang guru yang enggan menyambut kedatangan peserta didik dengan alasan yang sama. Ya, itulah kita. Kadang kita masih menunjukkan ego dengan menuntut hak untuk lebih di hormati daripada menghormati orang lain.
Anak adalah manusia kecil dimana pengakuan atas eksistensi keberadaannya sangat berarti bagi perkembangan hidupnya di kemudian hari. Seorang anak yang merasa dihormati tumbuh menjadi sosok bijak, tanggungjawab dan berusaha melakukan sesuatu demi peningkatan penghormatan orang lain padanya. Dia akan merasa kecil hati bila hidup tanpa penghormatan dan diperlakukan dengan tidak layak. Jika anak dihormati, maka dia akan melakukan penghormatan yang sama. Menghormati anak sama saja dengan mengajarkannya untuk menghormati orang lain secara langsung, tidak sekedar teori.
Nur Sabani
“Mas, Mba, ayo kerjakan dengan teliti dan mandiri. Jangan kerja sama ya.... “
“Mas Andi, tolong Ibu. Hapus papan tulisnya,!”
Ucapan guru di atas adalah dialek panggilan dari dari Guru yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Meskipun panggilan Mas dan Mba juga digunakan di daerah luar jawa tengah akibat akulturasi bahasa. Panggilan mas dan mba sepadan dengan AA dan teteh di Jawa Barat, Uda dan uni di Padang, dan Cak dan ning di Jawa Timur, ataupun Kaka dan Tata di Gorontalo. Panggilan ini lazimnya digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dalam Praktiknya panggilan tersebut juga digunakan orang tua untuk memberi penghargaan kepada anak yang usianya lebih muda.
Jika guru menggunakan panggilan Mas, mba, dan semisalnya, peserta didik akan merasa dihargai dan dihormati. Saya melihat sendiri, Bu Rini, rekan saya ketika menggunakan panggilan mbak di kelas yang diampunya. Penghormatan ini akan menaklukkan hati siswa sehingga dia menuruti perintah ataupun larangan gurunya. Panggilan disertai dengan nama yang dilakukan seorang guru ini semakin mengena jika siswa di rumah belum mendapat penghargaan yang serupa dari orang tuanya. Meskipun demikian dialeg dan intonasi juga sangat mempengaruhi keampuhan sebuah panggilan. Mengucapkan kata mba dengan kata kasar dan mata melotot apalagi disertai dengan tangan yang mengepal bagaikan pistol bagus yang tidak ada pelurunya.
Meskipun belum ada penelitian dampak dari memanggil dengan sapaan Mas dan Mba terhadap perilaku siswa, saya yakin anda semua sepakat bahwa penghormatan kepada peserta didik akan mempengaruhi perilakunya. Ada pendapat menarik dari Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi yang menyimpulkan bahwa memanggil Kakak terhadap anak sulung berpengaruh pada kemandirian dan tanggung jawab anak. Memanggil anak dengan sapaan baik adalah wujud penghormatan. Penghormatan guru kepada murid selain melalui sapaan juga diaplikasikan melalui perhatian, dan perbuatan nyata. Mungkin anda akan bertanya “Penghormatan kepada murid? Apa tidak terbalik?”. Pertanyaan yang hampir sama ketika ada seorang guru yang enggan menyambut kedatangan peserta didik dengan alasan yang sama. Ya, itulah kita. Kadang kita masih menunjukkan ego dengan menuntut hak untuk lebih di hormati daripada menghormati orang lain.
Anak adalah manusia kecil dimana pengakuan atas eksistensi keberadaannya sangat berarti bagi perkembangan hidupnya di kemudian hari. Seorang anak yang merasa dihormati tumbuh menjadi sosok bijak, tanggungjawab dan berusaha melakukan sesuatu demi peningkatan penghormatan orang lain padanya. Dia akan merasa kecil hati bila hidup tanpa penghormatan dan diperlakukan dengan tidak layak. Jika anak dihormati, maka dia akan melakukan penghormatan yang sama. Menghormati anak sama saja dengan mengajarkannya untuk menghormati orang lain secara langsung, tidak sekedar teori.
Nur Sabani
Jumat, 06 September 2019
PAHAMI PERBEDAAN INTELEKTUAL SISWA
Salah satu kemampuan pedagogik guru adalah memahami karakteristik peserta didik. Tujuannya, adalah agar guru mampu merencanakan pembelajaran di kelas dengan baik. Aspek karakteristik peserta didik terdiri dari fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. Jika guru memahami karakteristik peserta didik maka diharapkan akan mampu membedakan dan mengoptimalkan potensi berdasarkan kemampuan, serta mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
Aspek karakteristik peserta didik yang menarik dibahas adalah aspek intelektual. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan dan potensi yang berbeda, termasuk potensi intelektual. Guru bertugas untuk memaksimalkan potensi tersebut. Intelektual biasanya dihubungkan dengan kecerdasan yang mengerucut pada prestasi akademik. Pandangan inilah yang menyebabkan adanya julukan genius, cerdas, normal, dan bodoh. Label cerdas dan tidak cerdas baik melalui tes IQ maupun ungkapan yang diucapkan ini seakan merupakan indikator seseorang untuk menggapai kesuksesan di masa yang akan datang.
Munif Chatib, seorang pakar pendidikan yang bermadzhab Gardner menggugah dunia pendidikan untuk memahami kembali makna kecerdasan. Menurutnya, memahami kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Menurut pengarang buku “Sekolahnya Manusia” ini, kecerdasan manusia itu selalu berkembang. Guru dan orang tua harus mengetahui kecenderungan kecerdasan yang paling menonjol dan berpengaruh agar pembelajaran berhasil. Teori multiple Intelligences temuan Dr. Howard Gardner mengungungkapkan bahwa tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Untuk itulah maka teori ini menyarankan untuk mempromosikan kemampuan dan mengubur kelemahan anak.
Terlepas dari pro kontra multiple Intelligences ini, teori ini telah mengingatkan kita bahwa cara berfikir siswa berbeda beda. Sekolah dan guru akan berhasil jika mampu menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa. Untuk itu, guru terlebih dahulu mencari tahu karakter peserta didik dalam belajar. Selanjutnya guru akan merancang strategi, metode, dan model yang sesuai dengan karakter belajar peserta didik. Kegagalan siswa mencerna informasi disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa
Nur Sabani
Aspek karakteristik peserta didik yang menarik dibahas adalah aspek intelektual. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan dan potensi yang berbeda, termasuk potensi intelektual. Guru bertugas untuk memaksimalkan potensi tersebut. Intelektual biasanya dihubungkan dengan kecerdasan yang mengerucut pada prestasi akademik. Pandangan inilah yang menyebabkan adanya julukan genius, cerdas, normal, dan bodoh. Label cerdas dan tidak cerdas baik melalui tes IQ maupun ungkapan yang diucapkan ini seakan merupakan indikator seseorang untuk menggapai kesuksesan di masa yang akan datang.
Munif Chatib, seorang pakar pendidikan yang bermadzhab Gardner menggugah dunia pendidikan untuk memahami kembali makna kecerdasan. Menurutnya, memahami kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Menurut pengarang buku “Sekolahnya Manusia” ini, kecerdasan manusia itu selalu berkembang. Guru dan orang tua harus mengetahui kecenderungan kecerdasan yang paling menonjol dan berpengaruh agar pembelajaran berhasil. Teori multiple Intelligences temuan Dr. Howard Gardner mengungungkapkan bahwa tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Untuk itulah maka teori ini menyarankan untuk mempromosikan kemampuan dan mengubur kelemahan anak.
Terlepas dari pro kontra multiple Intelligences ini, teori ini telah mengingatkan kita bahwa cara berfikir siswa berbeda beda. Sekolah dan guru akan berhasil jika mampu menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa. Untuk itu, guru terlebih dahulu mencari tahu karakter peserta didik dalam belajar. Selanjutnya guru akan merancang strategi, metode, dan model yang sesuai dengan karakter belajar peserta didik. Kegagalan siswa mencerna informasi disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa
Nur Sabani
Selasa, 03 September 2019
BERANI JUJUR HEBAT
Protes kecil dilontarkan Hamam, anak pertamaku, ketika membaca slogan diatas. “Mengapa jujur hebat?. “Bukankah lebih tepat jika Berani jujur, Harus?”.
Hebat artinya sangat dasyat, jika diletakkan di belakang kata berani jujur, maka akan bermakna bahwa orang yang berani berbuat jujur itu sangat dasyat, luar biasa. Slogan ini memberi makna lain bahwa jujur sekarang ini sudah menjadi barang yang langka. Menjamurnya kasus korupsi merupakan bukti bahwa kejujuran sudah dilanggar bahkan oleh para pemangku jabatan yang seharusnya menjadi teladan. Tak heran jika pelanggaran terhadap nilai kejujuran sudah menjangkiti masyarakat luas, baik di pasar, jalan, bahkan sampai lembaga pendidikan. Kelangkaan kejujuran inilah yang memunculkan slogan Berani jujur hebat sebagai kampanye agar seluruh masyarakat bisa menjadi hebat walau hanya dengan berlaku jujur.
Slogan jujur hebat juga bermakna lain bahwa bertindak jujur saat ini sangatlah berat dilakukan. Tak jarang jika dalam suatu komunitas ada yang berani berkata jujur dia akan menuai perlawanan dari pihak lain. Kata-kata “sok alim”, “sok bersih” adalah bentuk bulying terhadap seseorang atau kelompok yang tetap berpegang teguh pada kejujuran. Seseorang yang berpegang teguh pada kejujuran kadang juga dikucilkan oleh kelompok yang sudah menganggap ketidakjujuran sebagai sebuah budaya. Dalam skala lebih besar, teror, tindakan kriminal, bahkan sampai nyawa, menjadi tantangan bagi orang yang berani melawan tindakan ketidakjujuran. Kasus kematian Munir sampai dengan upaya kekerasan terhadap Novel Bawesdain cukup menjadi bukti bahwa tantangan berlaku jujur sangatlah berat.
Kata Hebat adalah sebuah pujian dan penghargaan bagi orang yang berbuat jujur. Pujian ini juga bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar berani berbuat jujur dimanapun berada. Kalimat Berani Jujur Hebat juga bermakna tantangan agar semua lapisan masyarakat dalam posisi apapun bisa tergerak hatinya untuk berani melawan bentuk bentuk pelanggaran terhadap nilai kejujuran. Kampanye melalui slogan ini diharapkan akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kejujuran jika sudah terpatri dalam pribadi seseorang, akan menjadi landasan dalam setiap aktifitas yang dilakukan.
Slogan Berani Jujur Hebat merupakan upaya untuk menyadarkan masyarakat dengan aksi individual, dengan memulai menanamkan prinsip kejujuran mulai dari pribadi. Jika nilai ini sudah dipegang teguh dalam setiap warga masyarakat, maka akan berimbas pada kelompok dalam skup yang lebih luas. Upaya penyadaran ini tentunya harus didukung berbagai pihak. Keluarga, sebagai kelompok masyarakat yang paling kecil memegang peranan yang sangat vital untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Lembaga pendidikan sebagai tempat belajar siswa juga harus lebih menekankan prinsip kejujuran dengan berbagai strategi. Lembaga desa, lembaga pemerintahan, dan negara juga harus memberikan contoh konkrit implementasikan kejujuran baik berupa tauladan pejabat maupun kebijakan yang dilakukan.
Berani Jujur Hebat diharapkan jangan hanya sebatas slogan yang tanpa makna dan kering pegamalannya. Penghargaan hebat sebaiknya juga tidak hanya sebagai tulisan dan julukan semata, akan tetapi diwujudkan dengan penghargaan maupun apresiasi terhadap perseorangan, kelompok, maupun lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran. Alat ukur yang digunakan dalam menilai arus obyektif dan akurat, agar terhindar dari kesalahan gelar yang justru akan semakin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap nilai kejujuran. Upaya ini jika dilakukan secara masif akan membuahkan suatu kompetisi untuk berebut berbuat jujur.
Walloh a’lam bishowab
Nur Sabani
Hebat artinya sangat dasyat, jika diletakkan di belakang kata berani jujur, maka akan bermakna bahwa orang yang berani berbuat jujur itu sangat dasyat, luar biasa. Slogan ini memberi makna lain bahwa jujur sekarang ini sudah menjadi barang yang langka. Menjamurnya kasus korupsi merupakan bukti bahwa kejujuran sudah dilanggar bahkan oleh para pemangku jabatan yang seharusnya menjadi teladan. Tak heran jika pelanggaran terhadap nilai kejujuran sudah menjangkiti masyarakat luas, baik di pasar, jalan, bahkan sampai lembaga pendidikan. Kelangkaan kejujuran inilah yang memunculkan slogan Berani jujur hebat sebagai kampanye agar seluruh masyarakat bisa menjadi hebat walau hanya dengan berlaku jujur.
Slogan jujur hebat juga bermakna lain bahwa bertindak jujur saat ini sangatlah berat dilakukan. Tak jarang jika dalam suatu komunitas ada yang berani berkata jujur dia akan menuai perlawanan dari pihak lain. Kata-kata “sok alim”, “sok bersih” adalah bentuk bulying terhadap seseorang atau kelompok yang tetap berpegang teguh pada kejujuran. Seseorang yang berpegang teguh pada kejujuran kadang juga dikucilkan oleh kelompok yang sudah menganggap ketidakjujuran sebagai sebuah budaya. Dalam skala lebih besar, teror, tindakan kriminal, bahkan sampai nyawa, menjadi tantangan bagi orang yang berani melawan tindakan ketidakjujuran. Kasus kematian Munir sampai dengan upaya kekerasan terhadap Novel Bawesdain cukup menjadi bukti bahwa tantangan berlaku jujur sangatlah berat.
Kata Hebat adalah sebuah pujian dan penghargaan bagi orang yang berbuat jujur. Pujian ini juga bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar berani berbuat jujur dimanapun berada. Kalimat Berani Jujur Hebat juga bermakna tantangan agar semua lapisan masyarakat dalam posisi apapun bisa tergerak hatinya untuk berani melawan bentuk bentuk pelanggaran terhadap nilai kejujuran. Kampanye melalui slogan ini diharapkan akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kejujuran jika sudah terpatri dalam pribadi seseorang, akan menjadi landasan dalam setiap aktifitas yang dilakukan.
Slogan Berani Jujur Hebat merupakan upaya untuk menyadarkan masyarakat dengan aksi individual, dengan memulai menanamkan prinsip kejujuran mulai dari pribadi. Jika nilai ini sudah dipegang teguh dalam setiap warga masyarakat, maka akan berimbas pada kelompok dalam skup yang lebih luas. Upaya penyadaran ini tentunya harus didukung berbagai pihak. Keluarga, sebagai kelompok masyarakat yang paling kecil memegang peranan yang sangat vital untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Lembaga pendidikan sebagai tempat belajar siswa juga harus lebih menekankan prinsip kejujuran dengan berbagai strategi. Lembaga desa, lembaga pemerintahan, dan negara juga harus memberikan contoh konkrit implementasikan kejujuran baik berupa tauladan pejabat maupun kebijakan yang dilakukan.
Berani Jujur Hebat diharapkan jangan hanya sebatas slogan yang tanpa makna dan kering pegamalannya. Penghargaan hebat sebaiknya juga tidak hanya sebagai tulisan dan julukan semata, akan tetapi diwujudkan dengan penghargaan maupun apresiasi terhadap perseorangan, kelompok, maupun lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran. Alat ukur yang digunakan dalam menilai arus obyektif dan akurat, agar terhindar dari kesalahan gelar yang justru akan semakin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap nilai kejujuran. Upaya ini jika dilakukan secara masif akan membuahkan suatu kompetisi untuk berebut berbuat jujur.
Walloh a’lam bishowab
Nur Sabani
Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)
LINK BIOGRAFI










