Rabu, 23 Februari 2011

BUKAN BALAS JASA

BUKAN BALAS JASA



Darah dagingmu dari air susunya,
Jiwa ragamu dari kasih sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya
Penggalan lagu Keramat karya H. Rhoma Irama ini dapat merindingkan bulu jika kita meresapi maknanya. Ibu adalah sosok yang telah mengukir jiwa raga kita. Ibu bagaikan malaikat yang dengan sabar merawat dan mendidik kita tanpa mengenal lelah. Al-Qur’an telah menggambarkan kegigihan ibu saat mengandung, menyusui hingga menyapih seorang anak. Perjuangan ibu ini terkadang bertaruhkan nyawa. Selanjutnya Allah mengingatkan kita untuk bersyukur. Rasa syukur pertama adalah bersyukur pada Allah yang telah menjadikan ibu sebagai perwujudan kasih sayang-Nya. Rasa syukur kedua adalah rasa syukur kepada orang tua khusunya ibu dengan menunjukkan bhakti kita kepada mereka.
Pada era modern ini sebagian masyarakat menjadikan materi sebagai tolak ukur kebaktian anak terhadap ibu. Pemberian baik berupa uang atau benda berharga dianggap menjadi indikator kebaktian seseorang. Terkadang ada penyesalan pada anak ketika orang tuanya meninggal dengan tangisan “aduh, aku belum pernah memberikan sesuatu”. Paradigma tersebut menghantui seseorang seiring zaman yang semakin berorientasi pada material. Padahal dalam mengasuh anaknya, seorang ibu tidak pernah meminta untuk dibalas jasa-jasanya. Mereka tetap mencintai anak tanpa syarat.. Jika ibu meminta, kita tidak pernah bisa membalas kebaikan mereka. Jasa ibu tidak bisa diukur dengan dunia seisinya sekalipun. Bhakti kita kepada ibu bukanlah perwujudan balas jasa, tapi hanya ungkapan syukur kita kepadanya.
Selain mengaktualisasikan syukur kita kepada ibu, cara lain berbakti pada ibu adalah dengan menghormati dan mendo’akan. Konsep mikul duwur mendem jero juga harus diterapkan sebagai implementasi dari penghormatan kita. Sebagai anak, kita berusaha mengharumkan nama ibu dengan menjadi anak yang sholih. Bagaimanapun kondisi ibu, dari anggukan wajah, atau sekedar senyuman di ujung bibir, juga belaian tangan ibu di pundak anak, ternyata sangat menentukan bagi puluhan ribu hari berikutnya yang masih harus ia lewati. Satu detik keikhlasan ibu merawat anak, bisa menjadi bibit keuntungan jutaan rupiah yang kelak didapatkan anak dari kesuksesannya setelah dewasa.Tak kalah penting dari wujud bhakti kita kepada ibu adalah penghargaan kita terhadap harkat dan martabat kaum wanita, karena dari tangan merekalah tercipta sorga dunia dan di bawah telapak kaki merekalah surga berada. Salam Hormat Untuk Ibu di seluruh dunia
Nur Sabani Guru MTsN Prembun Kebumen

0 komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR :

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI