Rabu, 20 April 2011

Memalukan

Senin, 18-20 April 2011, Workshop PTK di Hotel Lor in Solo. Mewakili MGMP PAI Kebumen. Setelah melalui tahap seleksi proposal akhirnya penulis lolos untuk mengadakan PTK yang diselenggarakan oleh PUSLITBANG Pusat Kemenag RI. Tahap selanjutnya adalah workhshop. Meskipun sudah beberapa kali mampir di hotel baru kali ini masuk hotel yang agak gede, banyak pengalaman didapat disini, baik pahit maupun getir. kali ini saya akan berbagi pengalaman yang UNIK aja, serba pahit, plus ngisin-ngisini....

Dari Prembun naik angkot ke kutoarjo rencana mo naik kereta Prameks. Angkot jalannya super lambat karena tunggu penumpang. Sampai terminal Kutoarjo segera jalan cepat ke stasiun sampai kringet bercucuran,  ternyata kereta baru aja berangkat. Dengan langkah tergesa akhirnya naik Bus jogja dan nyambung jurusan Solo. Karena buta Solo tanya sana sini akhirnya sampai juga di Jl. Adisucipto 47 Solo.Cek in bingung.., karena kebetulan banyak yang mengadakan pelatihan, dengan PD saya langsung daftarkan diri ke loket yang ada tulisannya KANWIL Jateng. Setelah menyerahkan Surat Tugas, saya ditanya ma Panitia Lho kok dari Madrasah? ini khan workhshop Guru Pasraman (Guru Asrama Hindu)?. "Duh, mana yang benar?" (emang ada di MTs pelajaran Hindu?? ).Informasi dari Jakarta tempat Workhshop saya tadinya di Hotel Sahid tapi kemudian ada pemberitahuan pindah ke Hotel LORIN. Akhirnya saya konfirmasi ke Pihak Hotel. Alhamdulillah, tempat benar hanya saja cek in langsung ke resepsionis. Dan akhirnya bisa masuk kamar.


Satu kamar dengan Guru Senior, Bpk.Abdul Latif (Guru MTsN Boyolali). Karena sama-sama buta hotel berbintang, penulis bingung mau masuk karena tidak diserahi kunci. Penulis kembali tanya ke petugas. Ternyata kuncinya memakai Kartu. Kembali saya dibuat malu, kelihatan ndesone.....Setelah merapihkan semua bekal yang ada ke almari, istirahat sebentar, Saya dan Pak Latif kebingungan lagi karena listrik mati. Sudah dicoba berulangkali menghidupkan hidup sebentar, mati, Byar pet... Dengan agak nada tinggi berseloroh" Hotel intang kok listrik mati?. Saya mencoba menggunakan fasilitas telphon ruang ke resepsionis dan melaporkan kejadian bahwa kamar listrik mati. Tak lama kemudian Satpam datang dan memberitahukan cara menghidupkan yaitu memakai Kartu yang tadi untuk buka pintu. Eh.... ternyata tekhnologi dah segitunya ya,,?. Malu lagi....(dasar butek=buta tekhnologi)
-->
1.      Salah Kamar
Sambil menunggu pembukaan acara, saya keluar sebentar untuk mengambil jaket yang tertinggal di lobiroom.  Sekembalinya, saya dibuat bingung karena semua kamar hampir sama. Kebingungan saya bertambah dengan nomor kamar yang tidak saya hafalkan sebelumnya. Hampir seperempat jam saya bolak-balik mencari kamar. Dengan tanpa ragu saya masuk ke kamar, ketika membuka pintu, saya melihat sandal putih dan sandal jepit yang mirip sandal kaum hawa, lalu cepat-cepat saya tutup karena saya punya keyakinan itu bukan kamar saya (“untung gak tahu”, pikirku). Saya menutup kamar tersebut dengan rapat sampai terkunci secara otomatis. Karena bingung saya kembali ke receptionis untuk menanyakan nomor kamar saya, meski dengan memendam rasa malu.
2.      Terkunci
Setelah mendapatkan nomor saya mantap masuk kamar, tapi ternyata kamar terkunci, padahal saya tidak membawa kunci cardnya. Saya berusaha mengetuk pintu berulang kali, tapi ternyata teman tidak mendengar karena teridur lelah. Sayapun terbengong di luar sampai setengah jam.
3.      Ternyata Bukan Wanita
Setelah setengah jam berlalu, alhamdulillah temen dah bangun, akhirnya saya masuk dan saya kaget ternyata disana masih ada sandal slop putih yang saya kira sandalnya ibu-ibu. Ternyata sandal tersebut fasilitas hotel yang diberikan pada para tamu....
4.      Serba bayar
Karena lelah, saya mencoba menikmati fasilitas yang ada, kebetulan dalam kamar tersedia kulkas kecil yang berisi aneka minuman dan suplemen serta berbagai macam kue dan biskuit. Setelah minum teh Buavita, aku terkejut karena ternyata makanan dan minuman tersebut serba bayar sendiri, untungnya waktu pembayaran besok kalau cek out. Fasilitas tersebut bernama Personal Bar. Saya pun menyesal, karena harganya 3 kali lipat lebih mahal. Bayangkan Coca cola dan serba serbi minuman dijual seharga 17.500,  padahal kalau kita beli diluar dijual 4.700.” idep-idep sodakoh”,(meskipun dalam hati menyesal, bukan karena gak punya uang lho)” batinku. Karena teman mau keluar, saya dan temenpun punya ide untuk mengganti semua yang telah saya minum dengan membeli diluar hotel. Minuman Buavita seharga Rp. 4.500, dengan merk dan ukuran sama alhamdulillah telah dibeli dan saya masukkan ke kulkas sebagai pengganti. Sah deh....
Hotspot kok bayar
Saya agak heran juga, dalam kamar kok gak bisa akses internet, akhirnya saya mencoba menggunakan airphone untuk kontak receptionis, “hotspot hanya ada di lobi pak, kalo di dalam kamar harus pinjam cashnya dengan mengganti uang 50.000”, katanya. “aduh..., capek deh..”, gumamku.

2 komentar:

Assalamu'alaikum Pak Nur... Subhanalloh,, ternayata kita tetangga ya PAk,,, sy asli purworejo, kita juga pernah sama-sama di Kalibeber.. cuman sy SMP bapak MAGISTER... ^^
Oh ya.... kisahnya lucu, sy suka bacanya..:)

Wa'alaikum salam
Oh ya..., saya baru tahu kalo bu aini dari pwrj. Makasih commentnya. Kisah malu2in khan? maklumlah orang desa. Ok Mutakhorijin al-Asy'ariyyah ya.... siip... lah..

Posting Komentar

KOMENTAR :

Biografi KH. Nur Sabani, M.Pd.I (Pengasuh PP. ADDABA)

LINK BIOGRAFI