IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
A. PENDAHULUAN
Kita melihat bahwa ada orang yang pandai ada pula yang kurang pandai. Ternyata orang-orang yang pandai itu selalu disiplin menepati jadwal yang telah dibuatnya, sehingga ia pandai membagi waktu untuk belajar, beribadah, bermain dan beristirahat. Waktu untuk bermain hanya terbatas, sementara waktu belajar lebih banyak .
Kata qadha berasal dari Bahasa Arab قَضَى – يَقْضِىْ - قَضَاءً qadha menurut bahasa adalah ketentuan atau ketetapan. Sedangkan menurut istilah adalah ketetapan atau ketentuan Allah sejak zaman azali, yang belum diketahui dan belum diterima oleh makhluk-Nya. Azali artinya ketetapan itu sudah ada sebelum keberadaan makhluk.
Qadar juga berasal dari Bahasa arab قَدَرَ – يَقْدِرُ – قَدْرًا. Menurut bahasa qadar berarti ukuran atau aturan. Secara istilah qadar berarti ketentuan atau ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah atas makhluk-Nya dan telah diterima serta telah berlaku bagi makhluk-Nya.
b. Pengertian beriman kepada Qadha dan Qadar
Beriman kepada qadha dan qadar atau yang biasa disebut takdir berarti kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala yang terjadi di dunia ini sesuai kehendak Allah dan sesuai dengan aturan yang diciptakan-Nya. Dalam memahami pengertian qadha dan qadar harus dilandasi dengan iman dan ilmu yang benar karena jika tidak kita akan terperangkap pada pemahaman yang salah. Misalnya kita beranggapan bahwa nasib baik dan buruk seseorang telah ditentukan oleh Allah secara pasti sehingga manusia hanya sebagai pelaksana tanpa memiliki sedikit pun peran dalam menentukan nasibnya. Oleh sebab itu kita perlu memahaminya secara baik dan benar sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Ulama berpendapat bahwa taqdir terbagi menjadi dua, yaitu: takdir mubram dan takdir muallaq.
1) Takdir mubram
Takdir mubram yaitu takdir yang tidak dapat diubah atau diusahakan oleh manusia. Semua terjadi semata-mata karena kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa. Takdir ini pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan kejadiannya. Contoh takdir mubram adalah lahir, kematian, jodoh, rezeki dan kiyamat.
2) Takdir muallaq
Takdir muallaq yaitu takdir yang erat kaitannya dengan usaha manusia. Artinya takdir itu terjadi berkaitan dengan usaha manusia. Dalam hal ini dapat diambil contoh keadaan manusia karena usaha kerasnya hingga menjadi orang yang sukses dan kaya, usaha ingin tetap sehat dengan cara rajin berolah raga, usaha temanmu yang sangat rajin belajar sehingga menjadi yang terpandai di kelasnya, dan sebagainya. Sesuai dengan firman Allah di dalam surat An-Najm ayat 39, yang artinya:
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Adil. Ketentuan (qadla) maupun keputusan (qadar) Allah SWT berjalan sesuai dengan kehendaknya dengan memperhatikan proses sebab akibat. Proses sebab akibat ini disebut sunatullah. Dalam istilah populer disebut Hukum Kausalitas (Causatife).
c. Bukti atau dalil kebenaran adanya Qadha dan Qadar
Di dalam Al-Qur’an diterangkan tentang iman kepada qadha dan qadar pada banyak ayat, 3 di antaranya adalah:
1) Surat Al-Ahzab ayat 36 yang artinya :
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.( QS. Al-Ahzab/33: 36)
2) Surat Al-Qamar: 49 yang artinya:Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS Al-Qamar : 49). Pada ayat ini qadar berarti ukuran atau aturan yang diciptakan Allah dan manusia terikat oleh aturan tersebut.
3) Surat Maryam : 21, yang artinya :
“Dan yang demikian itu urusan yang telah ditentukan” (QS.Maryam:21)
Dari beberapa ayat di atas dapat dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini dari sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu itulah yang disebut takdir. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu dan Allah menuntun serta menunjukkan kepada mereka arah yang seharusnya mereka tuju.
d. Contoh Peristiwa yang Berhubungan dengan Qadha dan Qadar
Untuk memperjelas pemahaman tentang Qadha dan Qadar, berikut ini disajikan beberapa contoh sebagai berikut:
1) Allah berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Ketetapan ini sebagai qadha-Nya. Untuk mewujudkan kehendak-Nya, Allah membekali ciptaan-Nya tersebut dengan akal pikiran. Namun demikian manusia tetap memiliki kemampuan yang terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan kepadanya. Misalnya, manusia tidak dapat terbang. Ini merupakan batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya, manusia tak bisa melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan suatu alat. Namun akalnya pun mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui. Manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga yang kita lakukan juga tidak terlepas dari hukum-hukum-Nya. Tetapi karena hukum-hukum tersebut cukup banyak dan kita diberi kemampuan memilih, maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang telah ditetapkan Allah terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan panas dan membakar; sedangkan angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin. Itu takdir Allah, manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya petunjuk dari Allah.
2) Allah SWT menentukan bahwa si Abdullah menjadi seorang presiden di negara Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan qadla Allah SWT. Untuk mendukung ketentuan Allah SWT tersebut, maka Allah SWT memberikan kemampuan/potensi kepada Abdullah sebagai seorang presiden. Proses si Abdullah dari awal sampai terpilihnya ia menjadi seorang presiden disebut ikhtiar. Faktor- faktor yang mendukung ia menjadi seorang presiden bukanlah suatu kebetulan, tetapi termasuk bagian dari ketentuan Allah SWT. Sedangkan ketika ia telah terpilih menjadi seorang presiden merupakan qadar Allah SWT.
3) Allah menetapkan (Qadha) harus ada kehidupan di dunia ini. Untuk mewujudkan kehendaknya Allah menciptakan matahari sebagai sarana kehidupan. Penciptaan matahari ini disebut Qadar.
e. Perilaku Orang yang Beriman kepada Qadha dan Qadar
Orang yang terbaik di sisi Allah SWT bukanlah orang yang tidak pernah mendapatkan ujian-ujian dari Allah, tetapi justru orang yang sering mendapat ujian dari-Nya. Hamba-hamba Allah yang termasuk Ulul Azmi adalah contoh manusia-manusia yang sabar dan tabah dalam menghadapi segala hambatan, tantangan dan ujian yang diberikan Allah SWT.
Sebagai orang yang beriman kepada Allah, sikap yang terbaik dalam menghadapi setiap Qadha dan Qadar Allah SWT adalah sebagai berikut:
1) Sabar atau tabah hati
Sabar dalam pengertian luas adalah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan maupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Para ahli tasawuf membagi kesabaran dalam tiga macam, yaitu: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan kewajiban dari Allah SWT dan sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan segala maksiat.
Sikap manusia yang benar keimanannya adalah sikap yang sabar dalam menerima ujian dan cobaan dari Allah SWT. Keimanan itu akan diuji oleh Allah SWT dengan cobaan-cobaan, siapa yang benar keimanannya dia akan menerima bahwa Allah SWT memang menguji dirinya dengan cobaan-cobaan itu. Dan Allah tidak memberi ujian di luar batas kemampuan manusia meskipun kelihatannya berat bahkan kadangkala bertubi-tubi (tak henti-henti). Dan jika kita bisa melampaui semua ujian tersebut Allah akan mengangkat derajat kita lebih tinggi.
2) Tidak putus asa
Salah satu watak dasar manusia adalah sering berkeluh kesah. Ketika diberikan kecukupan rizki, kebanyakan orang tidak bersyukur, namun apabila diberi sedikit ujjian dia akan berputus asa. Jika seorang mukmin putus asa dalam menerima ujian dari Allah SWT, sesungguhnya keimanannya itu telah rapuh. Maka ujian iman itu merupakan barometer (alat ukur) untuk menilai kadar keimanan seseorang. Misalnya seorang mukmin mendapat cobaan dari Allah SWT berupa kekurangan harta, ia berputus asa dengan tidak bekerja keras, bahkan melakukan pekerjaan haram untuk memenuhi hajat hidupnya. Jalan yang ditempuhnya menunjukkan keputusasaan dia dalam menerima takdir Allah SWT. Atau ada seorang pelajar kebetulan kemampuanya relatif tertinggal dengan teman sekelasnya, dia putus asa, dia enggan belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan selalu menyiapkan contekan sebelum ulangan/ujian.
3) Ikhlas, tawadhu dan tidak takabur
Ikhlas artinya tulus, sepenuh hati menerima sesuatu. Dalam hubungan dengan qadha dan qadar, yang dimaksud ikhlas adalah menerima segala ketentuan Allah SWT dengan ridha. Maksud ridha di sini adalah hendaknya kita bersyukur jika takdir yang terjadi pada kita adalah sesuatu yang menggembirakan. Kita rendah hati (tawadhu’) bahwa nikmat yang kita peroleh itu karena anugerah dari Allah semata. Kita tidak boleh takabur (sombong) seakan akan keberhasilan itu mutlak karena usaha kita. Jika kita ditimpa sesuatu yang merugikan, maka kita harus sabar. Ridha terhadap qadha dan qadar hukumnya wajib. Dasarnya adalah hadis Qudsi berikut:
عَنْ أَبِي هِنْدٍ الدَّارِيِّ الْحَجَّامِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلائِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ (. رواه الطبراني)
Artinya:
Dari Abi Hindun Ad Dari Al Hajami berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW Bersabda: Allah berfirman: Barangsiapa yang tidak ridha terhadap qadla-Ku dan tidak sabar menerima cobaan-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku.(HR Ath-Thabrani)
4) Tawakkal
4) Tawakkal
Secara bahasa tawakkal berarti berserah diri, sedangkan secara istilah berarti berserah diri kepada qadha dan qadar Allah SWT setelah berusaha (ikhtiar) sekuat mungkin sesuai dengan kewajibannya sebagai manusia. Firman Allah di dalam surat At-Thalaq ayat 3:
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلىَ اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ( الطلاق : 3)
Artinya:
Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah SWT akan mencukupkan (keperluannya ) (QS At-Thalaq/65: 3)
5) Semangat Ikhtiar
Jika manusia sadar bahwa kebahagiaan tidak datang begitu saja melainkan harus diusahakan dan diperjuangkan maka dia akan khawatir jika tidak berusaha secara sungguh-sungguh walaupun yang datang kadangkala bukan kebahagiaan tetapi sesuatu yang menyusahkan. Sebab itu manusia harus bekerja keras sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Qashash:
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.(QS Al-Qashash/28: 77)
f. Dampak Positif Orang yang Beriman kepada Qadha dan Qadar
1. Berjiwa qana’ah (rela menerima kenyataan hidup) dengan ikhlas
2. Berani menghadapi persoalan dalam hidup karena yakin bahwa yang dialami adalah ujian dari Allah SWT
3. Memiliki Jiwa yang tenang dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang kurang baik
g. Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadar
Sesungguhnya pada ketentuan-ketentuan Allah terdapat banyak hikmah bagi orang-orang yang mengetahuinya. Demikian juga pada qadha dan qadar Allah terdapat hikmah antara lain:
1) Melatih diri untuk menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Allah SWT
2) Mendidik diri untuk memiliki jiwa yang ikhlas dalam menghadapi kenyataan hidup
3) Bersikap sabar dalam menghadapi kegagalan atau suatu musibah
4) Optimis, terus berusaha dan pantang menyerah serta bertawakkal dalam menggapai suatu cita-cita
5) Selalu berprasangka baik (khusnudlan) kepada Allah ketika menghadapi kesulitan hidup
6) Meyakini dalam hati bahwa keadaan yang dialami manusia (yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan) merupakan ujian dari Allah SWT
7) Terus giat bekerja dan belajar sebagai bentuk mensyukuri nikmat jasmani dan rohani
8) Tetap tawadhuk dan tidak sombong ketika sedang berlimpah harta
9) Meyakini bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang kita peroleh.






1 komentar:
siip
aku dikasig carane dong..
Dari Rudi, Kebumen
Posting Komentar
KOMENTAR :